73_Aliran Akhir Zaman

73_Aliran Akhir Zaman

Jumat, 21 Februari 2020

Pelajaran Dari Dialog Sayyid Abdullah Ibn 'Abbas Dengan Khowarij

Kaum Khawarij adalah sekte pertama yang menyimpang dalam sejarah Islam. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bahkan berwasiat khusus mengenai kaum khawarij, beliau bersabda

تمرق مارقة على حين فرقة من أمتي يحقر أحدكم صلاته مع صلاتهم، وقراءته مع قراءتهم، يمرقون من الإسلام مروق السهم من الرمية، أينما لقيتموهم فاقتلوهم فإن في قتلهم أجراً لمن قتلهم

“Mereka keluar saat terjadi perpecahan di antara umatku. Salah seorang diantara kalian (sahabat Nabi) akan menganggap remeh shalatnya dibanding shalat mereka. Kalian menganggap remeh baca’an Al Qur’an kalian dibanding bacaan mereka. Mereka itu keluar dari agama ini sebagaimana keluarnya panah dari sasarannya. Di manapun kalian menemui mereka, bunuhlah mereka. Karena membunuh mereka itu berpahala bagi yang membunuhnya” (HR. Bukhari 3611)

Diantara aqidah kaum khawarij adalah menganggap kafirnya kaum muslimin pelaku dosa besar, dan meyakini bahwa mereka kekal di neraka. Demikian ciri khas kaum khawarij, yaitu terlalu mudah memvonis kafir kepada seorang Muslim. Bahkan di zaman Ali bin Abi Thalib dahulu, mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib yang menjadi khalifah dan juga mengkafirkan kaum muslimin yang tidak setuju dengan pendapat mereka.

Bahkan sebelumnya, mereka telah membangun pemberontakan terhadap khalifah Utsman bin ‘Affan radhiallahu’anhu yang menyebabkan terbunuhnya Utsman. Ini pun merupakan salah satu sifat mereka, yaitu gemar mencari-cari kesalahan penguasa. Mereka juga berpendapat wajibnya menggulingkan penguasa yang mereka anggap salah dan zhalim. Sebagaimana ketika mereka mengkafirkan Ali bin Abi Thalib, dengan alasan bahwa Ali telah berhukum dengan selain hukum Allah yaitu berhukum kepada manusia. Mereka berdalil dengan ayat,

وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَآأَنزَلَ اللهُ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ

“Dan barang siapa yang tidak berhukum dengan apa yang Allah turunkan, mereka adalah orang-orang yang kafir.” (QS. Al Maidah: 44).

Namun Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu’anhuma, seorang ulama yang faqih di kalangan para sahabat Nabi, merasa perlu untuk berbicara dengan mereka dalam rangka mendebat mereka dan mematahkan argumen mereka supaya mereka kembali ke jalan yang benar. Berikut ini dialog antara Abdullah bin ‘Abbas dengan kaum Khawarij.

Diriwayatkan oleh Imam An Nasa-i dalam kitab Al Khasha-ish Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib (190), dengan sanad yang hasan,

أخبرنا عمرو بن علي قال حدثنا عبد الرحمن بن مهدي قال حدثنا عكرمة بن عمار قال حدثني أبو زميل قال حدثني عبد الله بن عباس قال

‘Amr bin Ali mengabarkan kepadaku, ia berkata, ‘Abdurrahman bin Mahdi menuturkan kepadaku, Ikrimah bin ‘Ammar berkata, Abu Zamil menuturkan kepadaku, ia berkata, Abdullah bin ‘Abbas berkata:

لما خرجت الحرورية اعتزلوا في دار و كانوا ستة آلاف فقلت لعلي يا أمير المؤمنين أبرد بالصلاة لعلي أكلم هؤلاء القوم قال إني أخافهم عليك قلت كلا

Ketika kaum Haruriyyah (Khawarij) memberontak, mereka berkumpul menyendiri di suatu daerah. Ketika itu mereka ada sekitar 6000 orang. Maka aku pun berkata kepada ‘Ali bin Abi Thalib: “wahai Amirul Mu’minin, tundalah shalat zhuhur hingga matahari tidak terlalu panas, mungkin aku bisa berbicara dengan mereka kaum Khawarij”. Ali berkata: “aku mengkhawatirkan keselamatanmu”. aku berkata: “tidak perlu khawatir”

فلبست وترجلت و دخلت عليهم في دار نصف النهار وهم يأكلون فقالوا مرحبا بك يا ابن عباس فما جاء بك قلت لهم أتيتكم من عند أصحاب النبي المهاجرين والأنصار ومن عند ابن عم النبي وصهره وعليهم نزل القرآن فهم أعلم بتأويله منكم و ليس فيكم منهم أحد لأبلغكم ما يقولون وأبلغهم ما تقولون فانتحى لي نفر منهم

Aku lalu memakai pakaian yang bagus dan berdandan. Aku sampai di daerah mereka pada waktu tengah hari, ketika itu kebanyakan mereka sedang makan. Mereka berkata: “marhaban bik (selamat datang) wahai Ibnu ‘Abbas, apa yang membuatmu datang ke sini?”. Aku berkata: “Aku datang mewakili para sahabat Nabi dari kaum Muhajirin dan Anshar dan mewakili anak dari paman Nabi (Ali bin Abi Thalib). Merekalah yang membersamai Nabi, Al Qur’an di turunkan di tengah-tengah mereka, dan mereka lah yang paling memahami makna Al Qur’an. Dan tidak ada salah seorang pun dari kalian yang termasuk sahabat Nabi. Akan aku sampaikan perkataan mereka yang lebih benar dari perkataan kalian”. Lalu sebagian dari mereka mencoba menahanku untuk bicara.


قلت هاتوا ما نقمتم على أصحاب رسول الله وابن عمه قالوا ثلاث قلت ما هن قال أما إحداهن فانه حكم الرجال في أمر الله وقال الله إن الحكم إلا لله الأنعام 57 يوسف 40 67 ما شأن الرجال والحكم قلت هذه واحدة قالوا وأما الثانية فانه قاتل ولم يسب ولم يغنم إن كانوا كفارا لقد حل سبيهم و لئن كانوا مؤمنين ما حل سبيهم و لا قتالهم قلت هذه ثنتان فما الثالثة وذكر كلمة معناها قالوا محى نفسه من أمير المؤمنين فإن لم يكن أمير المؤمنين فهو أمير الكافرين قلت هل عندكم شيء غير هذا قالوا حسبنا هذا

Aku berkata lagi: “sampaikan kepada saya apa alasan kalian memerangi para sahabat Rasulullah dan anak dari pamannya (Ali bin Abi Thalib)?”. Mereka menjawab: “ada 3 hal”. Aku berkata: “apa saja?”. Mereka menjawab: “Pertama: ia telah menjadi hakim dalam urusan Allah, padahal Allah Ta’ala berfirman: “Sesungguhnya hukum itu hanyalah milik Allah” (QS. Al An’am: 57, Yusuf: 40). Betapa beraninya seseorang menetapkan hukum!”. Aku berkata: “ini yang pertama, lalu?”. Mereka menjawab: “Kedua: ia memimpin perang (melawan pihak ‘Aisyah) namun tidak menawan tawanan dan tidak mengambil ghanimah. Padahal jika memang ia memerangi orang kafir maka halal tawanannya. Namun jika yang diperangi adalah orang mukmin maka tidak halal tawanannya dan tidak boleh diperangi”. Aku berkata: “ini yang kedua, lalu apa yang ketiga?”. (Ketiga) Mereka menyampaikan perkataan yang intinya kaum Khawarij berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib telah menghapus gelar Amirul Mu’minin dari dirinya, dengan demikian ia adalah Amirul Kafirin. Aku lalu berkata: “apakah masih ada lagi alasan kalian?”. Mereka menjawab: “itu sudah cukup”.

قلت لهم أرأيتكم إن قرأت عليكم من كتاب الله جل ثناءه وسنة نبيه ما يرد قولكم أترجعون قالوا نعم قلت أما قولكم حكم الرجال في أمر الله فإني أقرأ عليكم في كتاب الله أن قد صير الله حكمه إلى الرجال في ثمن ربع درهم فأمر الله تبارك وتعالى أن يحكموا فيه أرأيت قول الله تبارك وتعالى يا أيها الذين آمنوا لا تقتلوا الصيد وأنتم حرم ومن قتله منكم متعمدا فجزاء مثل ما قتل من النعم يحكم به ذوا عدل منكم المائدة 95

Aku berkata: “bagaimana menurut kalian jika aku membacakan kitabullah dan sunnah Nabi-Nya yang akan membantah pendapat kalian? apakah kalian akan rujuk (taubat)?”. Mereka berkata: “ya”. Aku katakan: “adapun perkataan kalian bahwa Ali bin Abi Thalib telah menetapkan hukum dalam perkara Allah, aku kan membacakan Kitabullah kepada kalian bahwa Allah telah menyerahkan hukum kepada manusia dalam seperdelapan seperempat dirham. Allah tabaraka wa ta’ala memerintahkan untuk berhukum kepada manusia dalam hal ini. tidakkah kalian membaca firman Allah tabaraka wa ta’ala (yang artinya): ‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh hewan buruan dalam keadaan berihram. Barang siapa yang membunuhnya diantara kamu secara sengaja, maka dendanya adalah mengantinya dengan hewan yang seimbang dengannya, menurut putusan hukum dua orang yang adil diantara kamu‘ (QS. Al Maidah: 95)”

وكان من حكم الله انه صيره إلى رجال يحكمون فيه ولو شاء يحكم فيه فجاز من حكم الرجال أنشدكم بالله أحكم الرجال في صلاح ذات البين وحقن دمائهم أفضل أو في أرنب قالوا بلى هذا أفضل وفي المرأة وزوجها وإن خفتم شقاق بينهما فابعثوا حكما من أهله وحكما من أهلها النساء 35 فنشدتكم بالله حكم الرجال في صلاح ذات بينهم وحقن دمائهم افضل من حكمهم في بضع امرأة خرجت من هذه قالوا نعم

Ini diantara hukum Allah yang Allah serahkan putusannya kepada manusia. Andaikan Allah mau, tentu Allah bisa memutuskan saja hukumnya. Namun Allah membolehkan berhukum kepada manusia. Demi Allah aku bertanya kepada kalian, apakah putusan hukum seseorang dalam mendamaikan suami-istri yang bertikai atau dalam menjaga darah kaum muslimin atau dalam masalah daging kelinci itu afdhal? Mereka menjawab: “iya, tentu itu afdhal”. Dalam masalah pertikaian suami istri, “Dan bila kamu mengkhawatirkan perceraian antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam (penengah yang memberi putusan) dari keluarga laki-laki dan seorang penengah dari keluarga wanita” (QS. An Nisaa: 35). Demi Allah telah bacakan kepada kalian diperintahkannya berhukum kepada manusia dalam mendamaikan suami-istri yang bertikai dan dalam menjaga darah mereka, dan itu lebih afdhal dari pada hukum yang diputuskan beberapa wanita. Apakah alasanmu sudah terjawab dengan ini? Mereka menjawab: “Ya”.

قلت وأما قولكم قاتل ولم يسب ولم يغنم أفتسبون أمكم عائشة تستحلون منها ما تستحلون من غيرها وهي أمكم فإن قلتم إنا نستحل منها ما نستحل من غيرها فقد كفرتم وان قلتم ليست بأمنا فقد كفرتم النبي أولى بالمؤمنين من أنفسهم وأزواجه أمهاتهم الأحزاب 6 فأنتم بين ضلالتين فأتوا منها بمخرج افخرجت من هذه قالوا نعم

Aku berkata: “adapun perkataan kalian bahwa Ali berperang (melawan pihak ‘Aisyah) namun tidak menawan dan tidak mengambil ghanimah, saya bertanya, apakah kalian akan menawan ibu kalian ‘Aisyah? Apakah ia halal bagi kalian sebagaimana tawanan lain halal bagi kalian? Jika kalian katakan bahwa ia halal bagi kalian sebagaimana halalnya tawanan yang lain, maka kalian telah kufur. Atau jika kalian katakan ia bukan ibumu, kalian kafir. ‘Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka (kaum mukminin)‘ (QS. Al Ahdzab: 6). Maka kalian berada di antara dua kesesatan, coba kalian pilih salah satu? Apakah ini sudah menjawab alasan kalian?”. Mereka menjawab: “ya”.

وأما محي نفسه من أمير المؤمنين فأنا آتيكم بما ترضون إن نبي الله يوم الحديبية صالح المشركين فقال لعلي اكتب يا علي هذا ما صالح عليه محمد رسول الله قالوا لو نعلم انك رسول الله ما قاتلناك فقال رسول الله امح يا علي اللهم انك تعلم إني رسول الله امح يا علي واكتب هذا ما صالح عليه محمد بن عبد الله والله لرسول الله ص خير من علي و قد محى نفسه و لم يكن محوه نفسه ذلك محاه من النبوة أخرجت من هذه قالوا نعم

Ibnu Abbas berkata, “Adapun perkataan kalian bahwa Ali menghapus gelar Amirul Mu’minin darinya, maka aku akan sampaikan hal yang kalian ridhai. Bukankah Nabi shalallahu‘alaihi wasallam pada Hudaibiyah membuat perjanjian dengan kaum Musyrikin. Rasulullah berkata kepada Ali, “tulislah wahai Ali, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad Rasulullah”. Namun kaum musyrikin berkata, “tidak! andai kami percaya bahwa engkau Rasulullah,  tentu kami tidak akan memerangimu”. Maka Rasulullah shalallahu‘alaihi wasallambersabda, “Kalau begitu hilangkan tulisan “Rasulullah” wahai Ali. Ya Allah, sungguh Engkau Maha Mengetahui bahwa aku adalah Rasul-Mu. Hapus saja, wahai Ali. Dan tulislah, ini adalah perdamaian yang dinyatakan oleh Muhammad bin Abdillah”. Padahal Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam tentu lebih utama dari pada Ali. Namun beliau sendiri pernah menghapus gelar “Rasulullah”. Namun penghapus gelar tersebut ketika itu tidak menghapus kenabian beliau. Apakah alasan kalian sudah terjawab dengan ini?”. Mereka berkata: “ya”.

فرجع منهم ألفان وخرج سائرهم فقتلوا على ضلالتهم قتلهم المهاجرون والأنصار

Ibnu Abbas berkata, “maka bertaubatlah sekitar dua ribu orang di antara mereka, dan sisanya tetap memberontak. Mereka akhirnya terbunuh dalam kesesatan mereka. Kaum Muhajirin dan Anshar lah yang membunuh mereka”.

Semoga kita semua bisa mengambil pelajaran dari kisah ini dan lebih waspada terhadap aliran aliran yang berorientasi pada khowarij.

Kamis, 20 Februari 2020

Khowarij Sekte Pertama Dalam Islam Yang Sesat

Khawarij, tahukah Anda apa pemahaman Khawarij itu? Pemahaman Khawarij adalah pemahaman yang sesat! Pemahamannya telah memakan banyak korban. Yang menjadi korbannya adalah orang-orang jahil, tidak berilmu, dan berlagak punya ilmu atau berilmu tapi masih sedikit pemahamannya tentang Dien ini.

Para pemuda banyak menjadi korban. Dengan hanya bermodal semangat semu mereka mengkafirkan kaum Muslimin. Mereka kafirkan ayah, ibu, dan saudara-saudara mereka yang tidak sealiran atau tidak sepengajian dengan mereka. Sebaliknya, mereka menganggap hanya diri-diri mereka saja yang sempurna Islamnya, yang lainnya kafir. Ringan sekali lidah mereka menuduh kaum Muslimin sebagai orang yang kafir atau telah murtad dari agamanya. Mereka tidak mengetahui patokan-patokan syar’i untuk menghukumi seseorang itu menjadi kafir, fasiq, sesat, atau yang lainnya. Kasihan mereka.

Mereka memberontak kepada pemerintahan Muslimin yang sah. Hingga akibat pahit pemberontakan yang mereka lakukan ditelan oleh semua kaum Muslimin. Sejarah Islam mencatat bahwa gerakan yang mereka lakukan selalu menyengsarakan kaum Muslimin. Cara seperti ini tidak dibenarkan oleh Islam sama sekali.

Oleh karena itu, para pemuda harus tahu patokan-patokan dalam beramar ma’ruf dan nahi mungkar. Apakah perbuatan yang dia lakukan itu bermanfaat atau tidak, apakah tindakannya itu akan membuahkan hasil yang baik atau bahkan menjerumuskan dirinya ke dalam kesesatan.

Harakah-harakah, yayasan-yayasan, organisasi-organisasi, dan kelompok-kelompok yang berpemahaman seperti pemahaman Khawarij ini tumbuh subur.

Hadis Asal Mula Khawarij

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ يُنْظَرُ إِلَى نَصْلِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى رِصَافِهِ فَمَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى نَضِيِّهِ وَهُوَ قِدْحُهُ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ ثُمَّ يُنْظَرُ إِلَى قُذَذِهِ فَلَا يُوجَدُ فِيهِ شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ الْفَرْثَ وَالدَّمَ آيَتُهُمْ رَجُلٌ أَسْوَدُ إِحْدَى عَضُدَيْهِ مِثْلُ ثَدْيِ الْمَرْأَةِ أَوْ مِثْلُ الْبَضْعَةِ تَدَرْدَرُ وَيَخْرُجُونَ عَلَى حِينِ فُرْقَةٍ مِنْ النَّاسِ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَأَشْهَدُ أَنِّي سَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَشْهَدُ أَنَّ عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ قَاتَلَهُمْ وَأَنَا مَعَهُ فَأَمَرَ بِذَلِكَ الرَّجُلِ فَالْتُمِسَ فَأُتِيَ بِهِ حَتَّى نَظَرْتُ إِلَيْهِ عَلَى نَعْتِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي نَعَتَهُ

Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman yang berkata telah mengabarkan kepada kami Syu’aib dari Az Zuhri yang berkata telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bahwa Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu berkata kami bersama Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau sedang membagi harta rampasan perang, tiba-tiba datanglah Dzul Khuwaisirah dan dia seorang laki-laki dari bani Tamim, ia berkata “wahai Rasulullah berbuat adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil, sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berlaku adil”. Umar berkata “wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “biarkanlah ia, sesungguhnya ia memiliki para sahabat dimana salah seorang dari kalian menganggap kecil shalat kalian dibanding shalat mereka dan puasa kalian dibanding puasa mereka, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya. Dilihat mata panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat pegangan panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat batang panahnya maka tidak nampak apapun, dilihat bulu panahnya maka tidak nampak apapun sungguh ia mendahului kotoran dan darah. Ciri-ciri mereka adalah seorang laki-laki hitam yang salah satu lengannya seperti payudara perempuan atau seperti daging yang bergerak-gerak dan mereka keluar saat terjadi perselisihan di antara orang-orang. Abu Sa’id berkata “aku bersaksi bahwa aku mendengar hadis ini dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku bersaksi bahwa Ali bin Abi Thalib telah memerangi mereka dan ketika itu aku bersamanya, maka ia [Ali] memerintahkan untuk mencari laki-laki itu, akhirnya orang itu ditangkap dan dibawa kehadapannya maka aku bisa melihat ciri-ciri yang disebutkan oleh Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] [Shahih Bukhari 4/200 no 3610]

حدثنا محمد بن رمح بن المهاجر أخبرنا الليث عن يحيى بن سعيد عن أبي الزبير عن جابر بن عبدالله قال أتي رجل رسول الله صلى الله عليه و سلم بالجعرانة منصرفه من حنين وفي ثوب بلال فضة ورسول الله صلى الله عليه و سلم يقبض منها يعطى الناس فقال يا محمد اعدل قال ويلك ومن يعدل إذا لم أكن أعدل ؟ لقد خبت وخسرت إن لم أكن أعدل فقال عمر بن الخطاب رضي الله عنه دعني يا رسول الله فأقتل هذا المنافق فقال معاذ الله أن يتحدث الناس أني أقتل أصحابي إن هذا وأصحابه يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم يمرقون منه كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh bin Muhajir yang berkata telah mengabarkan kepada kami Laits dari Yahya bin Sa’id dari Abu Zubair dari Jabir bin ‘Abdullah yang berkata “seseorang datang kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] di Ji’ranah setelah pulang dari perang Hunain. Ketika itu dalam pakaian Bilal terdapat perak maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] membagikannya kepada manusia. Orang tersebut berkata “wahai Muhammad berlaku adillah?”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “celaka engkau, siapa yang bisa berlaku adil jika aku dikatakan tidak berlaku adil? Sungguh celaka dan rugi jika aku tidak berbuat adil. Umar berkata “wahai Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] izinkanlah aku membunuh munafik ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “aku berlindung kepada Allah dari pembicaraan orang-orang bahwa aku membunuh sahabatku sendiri, sesungguhnya orang ini dan para sahabatnya suka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar darinya seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Shahih Muslim 2/740 no 1063]

Jadi sebenarnya cikal bakal khawarij sudah muncul dizaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] yaitu dari salah seorang sahabat Nabi yang dipanggil Dzul Khuwaisirah berserta para sahabatnya. Ibnu Hajar memasukkannya dalam kitabnya Al Isabah dimana ia mengatakan kalau Ibnu Atsir memasukkan Dzul Khuwaisirah sebagai sahabat Nabi dan ia seorang laki-laki dari bani tamim, selain itu diriwayatkan kalau namanya adalah Hurqus bin Zuhair [Al Isabah  2/411 no 2452]. Disebutkan pula kalau ada yang mengatakan ia adalah Dzu Tsudayyah orang yang terbunuh bersama khawarij lainnya di Nahrawan [Al Isabah 2/409 no 2448]

Dzul Khuwaisirah termasuk penduduk Bani Tamim dan di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] penduduk Bani Tamim tinggal di wilayah timur jazirah arab yaitu Najd. Bani Tamim adalah suku arab keturunan Tamim bin Murr bin Ad yang nasabnya sampai kepada Ilyas bin Mudhar, jadi mereka termasuk bani Mudhar.

Al-Imam Al-Bukhari -Rahimahullah- meriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri, bahwa beliau berkata,
بَعَثَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْيَمَنِ بِذُهَيْبَةٍ فِي أَدِيمٍ مَقْرُوظٍ لَمْ تُحَصَّلْ مِنْ تُرَابِهَا قَالَ فَقَسَمَهَا بَيْنَ أَرْبَعَةِ نَفَرٍ بَيْنَ عُيَيْنَةَ بْنِ بَدْرٍ وَأَقْرَعَ بْنِ حابِسٍ وَزَيْدِ الْخَيْلِ وَالرَّابِعُ إِمَّا عَلْقَمَةُ وَإِمَّا عَامِرُ بْنُ الطُّفَيْلِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِهِ كُنَّا نَحْنُ أَحَقَّ بِهَذَا مِنْ هَؤُلَاءِ قَالَ فَبَلَغَ ذَلِكَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَلَا تَأْمَنُونِي وَأَنَا أَمِينُ مَنْ فِي السَّمَاءِ يَأْتِينِي خَبَرُ السَّمَاءِ صَبَاحًا وَمَسَاءً قَالَ فَقَامَ رَجُلٌ غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ نَاشِزُ الْجَبْهَةِ كَثُّ اللِّحْيَةِ مَحْلُوقُ الرَّأْسِ مُشَمَّرُ الْإِزَارِ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اتَّقِ اللَّهَ قَالَ وَيْلَكَ أَوَلَسْتُ أَحَقَّ أَهْلِ الْأَرْضِ أَنْ يَتَّقِيَ اللَّهَ قَالَ ثُمَّ وَلَّى الرَّجُلُ قَالَ خَالِدُ بْنُ الْوَلِيدِ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا أَضْرِبُ عُنُقَهُ قَالَ لَا لَعَلَّهُ أَنْ يَكُونَ يُصَلِّي فَقَالَ خَالِدٌ وَكَمْ مِنْ مُصَلٍّ يَقُولُ بِلِسَانِهِ مَا لَيْسَ فِي قَلْبِهِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَمْ أُومَرْ أَنْ أَنْقُبَ عَنْ قُلُوبِ النَّاسِ وَلَا أَشُقَّ بُطُونَهُمْ قَالَ ثُمَّ نَظَرَ إِلَيْهِ وَهُوَ مُقَفٍّ فَقَالَ إِنَّهُ يَخْرُجُ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمٌ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ رَطْبًا لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ وَأَظُنُّهُ قَالَ لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ ثَمُودَ

“Ali pernah mengirim dari Yaman untuk -Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam- sepotong emas dalam kantong kulit yang telah disamak, namun emas itu belum dibersihkan dari kotorannya. Maka -Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam- membaginya kepada empat orang; ‘Uyainah bin Badr, Aqra’ bin Habis, Zaid Al-Khail dan yang ke-empat, ‘Alqamah atau ‘Amir bin Ath-Thufail. Maka seseorang dari para sahabatnya menyatakan,”Kami lebih berhak dengan (harta) ini dibanding mereka”.

Ucapan itu sampai kepada Rasulullah -Shallallahu ‘ Alaihi Wa Sallam- , maka Beliau bersabda, “Apakah kalian tidak percaya kepadaku, padahal aku adalah kepercayaan Dzat yang ada dilangit (Allah), wahyu turun kepadaku dari langit diwaktu pagi dan sore”.

Kemudian datanglah seorang laki-laki (Dzul Khuwaishirah) yang cekung kedua matanya, menonjol kedua atas pipinya, menonjol kedua dahinya, lebat jenggotnya, botak kepalanya, dan tergulung sarungnya. Orang itu berkata,” Bertaqwalah kepada Allah, wahai Rasulullah!!”

Maka Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda, ”Celaka engkau!! Bukankah aku manusia yang paling bertakwa kepada Allah?!” Kemudian orang itu pergi. Maka Khalid bin Al-Walid -radhiyallahu anhu- berkata,”Wahai Rasulullah bolehkah aku penggal lehernya?”

Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda,”Jangan, barangkali dia masih shalat (yakni, masih muslim).” Khalid berkata,”Berapa banyak orang yang shalat dan berucap dengan lisannya (syahadat) ternyata bertentangan dengan isi hatinya.” Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- bersabda, “Aku tidak diperintah untuk mengorek isi hati manusia, dan membela dada-dada mereka.”

Kemudian Nabi -Sholllallahu alaihi wa sallam- melihat kepada orang itu, sambil berkata,“Sesungguhnya akan keluar dari keturunan orang ini sekelompok kaum yang membaca Kitabullah (Al-Qur’an) dengan mudah, namun tidak melampaui tenggorokan mereka. Mereka melesat dari (batas-batas) agama mereka seperti melesatnya anak panah dari sasarannya”. Saya (Abu Sa’id Al-Khudriy) yakin beliau -Shollallahu alaihi wa sallam- bersabda,

لَئِنْ أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ ثَمُوْدَ

“Jika aku menjumpai mereka, niscaya aku akan bunuh mereka seperti dibunuhnya kaum Tsamud.”. [HR. Al-Bukhari dalam Kitab Al-Maghozi (4351), dan Muslim dalam Kitab Az-Zakah (2448)]

Ibnul Jauzi rahimahullah memberi catatan hadis di atas dengan mengatakan,

أول الخوارج وأقبحهم حالة ذو الخويصرة التميمي. وفي لفظ أنه قال له: “وَيْلَكَ! وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ، قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ

Khawarij pertama dan yang paling jelek keadaannya adalah Dzul Huwaishirah At-Tamimi. Dalam riwayat lain, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya, “Celaka kau, siapa yang bisa adil jika aku tidak adil. Kamu betul-betul rugi jika aku tidak adil.”

فهذا أول خارجي خرج في الإسلام، وآفته أنه رضي برأي نفسه، ولو وقف لعلم أنه لا رأي فوق رأي رسول الله وأتباع هذا الرجل هم الذين قاتلوا علي بن أبي طالب

Inilah khawarij pertama yang memberontak dalam islam. Sisi cacat orang ini: dia lebih menyetujui pendapat pribadinya. Andaikan dia diam, dia akan menyadari bahwa tidak ada pendapat yang lebih benar melebihi pendapat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Pengikuti orang inilah yang memerangi Ali bin Abi Thalib. (Talbis Iblis, hlm. 90).

Bani Tamim Tinggal Di Najd

حدثنا محمد بن المثنى حدثنا مؤمل بن إسماعيل حدثنا نافع بن عمر بن جميل الجمحي حدثني بن أبي مليكة حدثني عبد الله بن الزبير أن الأقرع بن حابس قدم على النبي صلى الله عليه و سلم فقال أبو بكر يا رسول الله استعمله على قومه فقال عمر لا تستعمله يا رسول الله فتكلما عند النبي صلى الله عليه و سلم حتى ارتفعت أصواتهما فقال أبو بكر لعمر ما أردت إلا خلافي قال ما أردت خلافك قال فنزلت هذه الآية { يا أيها الذين آمنوا لا ترفعوا أصواتكم فوق صوت النبي } فكان عمر بن الخطاب بعد ذلك إذا تكلم عند النبي صلى الله عليه و سلم لم يسمع كلامه حتى يستفهمه قال وما ذكر بن الزبير جده يعني أبا بكر

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna yang berkata telah menceritakan kepada kami Mu’ammal bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bin Jamil Al Jimahiy yang berkata telah menceritakan kepadaku Ibnu Abi Mulaikah yang berkata telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Zubair bahwa Aqra’ bin Habis mendatangi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] maka Abu Bakar berkata“jadikanlah ia sebagai wakilmu atas kaumnya”. Umar berkata “jangan jadikan ia sebagai wakilmu, wahai Rasulullah”. Mereka terus membicarakannya disamping Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sehingga suara mereka semakin keras. Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar berkata “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah meninggikan suara kalian melebihi suara Nabi” [al hujurat ayat 2] maka Umar bin Khattab sejak saat itu jika berbicara kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] hampir tidak terdengar perkataannya hingga Beliau sering menanyakannya. Ibnu Zubair tidak menyebutkan tentang kakeknya Abu Bakar.[Shahih Sunan Tirmidzi 5/387 no 3266]

حَدَّثَنَا يَسَرَةُ بْنُ صَفْوَانَ بْنِ جَمِيلٍ اللَّخْمِيُّ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ عَنْ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ كَادَ الْخَيِّرَانِ أَنْ يَهْلِكَا أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا رَفَعَا أَصْوَاتَهُمَا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ قَدِمَ عَلَيْهِ رَكْبُ بَنِي تَمِيمٍ فَأَشَارَ أَحَدُهُمَا بِالْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ أَخِي بَنِي مُجَاشِعٍ وَأَشَارَ الْآخَرُ بِرَجُلٍ آخَرَ قَالَ نَافِعٌ لَا أَحْفَظُ اسْمَهُ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ لِعُمَرَ مَا أَرَدْتَ إِلَّا خِلَافِي قَالَ مَا أَرَدْتُ خِلَافَكَ فَارْتَفَعَتْ أَصْوَاتُهُمَا فِي ذَلِكَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَرْفَعُوا أَصْوَاتَكُمْ } الْآيَةَ قَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ فَمَا كَانَ عُمَرُ يُسْمِعُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ هَذِهِ الْآيَةِ حَتَّى يَسْتَفْهِمَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ ذَلِكَ عَنْ أَبِيهِ يَعْنِي أَبَا بَكْرٍ

Telah menceritakan kepada kami Yasarah bin Shafwan bin Jamil Al Lakhmiy yang berkata telah menceritakan kepada kami Nafi’ bin Umar bahwa Ibnu Abi Mulaikah berkata “hampir saja dua orang terbaik celaka yaitu Abu Bakar dan Umar. Keduanya telah meninggikan suaranya di sisi Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]ketika datang kafilah dari bani Tamim. Salah satu dari mereka menunjuk Aqra’ bin Habis saudara bani Mujasyi’ menjadi pemimpin. Dan yang lainnya menunjuk seorang lainnya. Nafi’ berkata ‘aku tidak hafal namanya’. Kemudian Abu Bakar berkata kepada Umar “tidak ada yang kau inginkan kecuali menyelisihiku”. Umar menjawab “aku tidak bermaksud menyelisihimu”. Suara keduanyapun meninggi membicarakan itu, maka turunlah ayat “wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suara melebihi suara Nabi” [Al Hujurat ayat 2]. Ibnu Zubair berkata “setelah itu, Umar tidak pernah memperdengarkan kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] sampai Beliau meminta kejelasannya dan Ibnu Zubair tidak menyebutkan itu dari ayahnya yaitu Abu Bakar [Shahih Bukhari 6/137 no 4845]

حدثنا هناد بن السري حدثنا أبو الأحوص عن سعيد بن مسروق عن عبدالرحمن بن أبي نعم عن أبي سعيد الخدري قال بعث علي رضي الله عنه وهو باليمن بذهبة في تربتها إلى رسول الله صلى الله عليه و سلم فقسمها رسول الله صلى الله عليه و سلم بين أربعة نفر الأقرع بن حابس الحنظلي وعيينة بن بدر الفزاري وعلقمة بن علاثة العاشمري ثم أحد بني كلاب وزيد الخير الطائي ثم أحد بني نبهان قال فغضبت قريش فقالوا أتعطي صناديد نجد وتدعنا ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم إني إنما فعلت ذلك لأتألفهم

Telah menceritakan kepada kami Hanaad bin As Sariy yang berkata telah menceritakan kepada kami Abul Ahwash dari Sa’id bin Masruq dari ‘Abdurrahman bin Abi Na’m dari Abu Sa’id Al Khudri yang berkata Ali radiallahu ‘anhu yang sedang berada di Yaman, mengirimkan emas yang masih dalam bijinya kepada Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] kemudian Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam]  membagikannya kepada empat orang yaitu Aqra’ bin Habis Al Hanzhali, Uyainah bin Badr Al Fazari, Alqamah bin Ulatsah Al ‘Asymiri yaitu salah seorang dari Bani Kilab, dan Zaid Al Khair At Tha’iy yaitu salah seorang dari Bani Nabhan. Orang-orang Quraisy marah dan berkata Apakah Beliau  [shallallahu ‘alaihi wasallam] memberi para pemimpin Najd, dan tidak memberikan kepada kita? Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Aku melakukan itu adalah untuk menarik hati mereka”. [Shahih Muslim 2/741 no 1064]

Hadis-hadis di atas menyebutkan kalau Aqra’ bin Habis Al Hanzhaliy adalah orang terkemuka dari bani Tamim sehingga ia dicalonkan sebagai pemimpin atas kaumnya dan dalam hadis itu disebutkan kalau ia salah seorang pemuka atau pemimpin Najd. Maka disini terdapat dalil yang menunjukkan kalau bani Tamim di masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] tinggal atau menetap di Najd.

Maka disini kita melihat apa kaitannya Khawarij dengan Najd. Mereka yang nantinya menjadi khawarij dan diperangi oleh Imam Ali ternyata sudah ada di zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan pencetusnya adalah Dzul Khuwaisirah seorang laki-laki dari bani Tamim. Pada masa Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam], Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya beserta keturunannya termasuk dalam bani Tamim dan tinggal di Najd.

Sejak zaman Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam] sebagian penduduk Tamim dikenal dengan sikapnya yang tidak baik kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam]. Mereka dikenal dengan sikapnya yang kasar walaupun harus diakui tidak semua bani Tamim seperti itu.

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا جَامِعُ بْنُ شَدَّادٍ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ أَنَّهُ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَقَلْتُ نَاقَتِي بِالْبَابِ فَأَتَاهُ نَاسٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا بَنِي تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ بَشَّرْتَنَا فَأَعْطِنَا مَرَّتَيْنِ ثُمَّ دَخَلَ عَلَيْهِ نَاسٌ مِنْ أَهْلِ الْيَمَنِ فَقَالَ اقْبَلُوا الْبُشْرَى يَا أَهْلَ الْيَمَنِ إِذْ لَمْ يَقْبَلْهَا بَنُو تَمِيمٍ قَالُوا قَدْ قَبِلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالُوا جِئْنَاكَ نَسْأَلُك عَنْ هَذَا الْأَمْرِ قَالَ كَانَ اللَّهُ وَلَمْ يَكُنْ شَيْءٌ غَيْرُهُ وَكَانَ عَرْشُهُ عَلَى الْمَاءِ وَكَتَبَ فِي الذِّكْرِ كُلَّ شَيْءٍ وَخَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ فَنَادَى مُنَادٍ ذَهَبَتْ نَاقَتُكَ يَا ابْنَ الْحُصَيْنِ فَانْطَلَقْتُ فَإِذَا هِيَ يَقْطَعُ دُونَهَا السَّرَابُ فَوَاللَّهِ لَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ تَرَكْتُهَا

Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Al’Amasy yang berkata telah menceritakan kepada kami Jami’ bin Syadad dari Shafwan bin Muhriz sesungguhnya telah mengabarkan kepadanya dari ‘Imran bin Hushain radiallahu ‘anhum yang berkata “aku masuk menemui Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan aku mengikat untaku di pintu. Kemudian datanglah orang-orang dari bani Tamim. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “terimalah kabar gembira wahai bani Tamim”. Mereka berkata “sungguh engkau telah memberi kami kabar gembira maka berikanlah kami sesuatu yang lain”mereka mengucapkannya dua kali  kemudian masuklah orang-orang Yaman, maka Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] berkata “terimalah kabar gembira wahai orang-orang Yaman karena bani Tamim telah menolaknya”. Mereka berkata “kami menerima wahai Rasulullah” mereka berkata “kami datang kepadamu untuk bertanya urusan ini”. Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda “Allah telah ada dan tidak ada apa-apa selain-Nya, kemudian Arsy- Nya di atas air dan dituliskan segala sesuatu dalam Az Zikru kemudian Allah menciptakan langit dan bumi. Tiba-tiba seseorang memanggilku “untamu terlepas wahai Ibnu Hushain”. Aku keluar dan untaku hilang di tengah padang pasir. Demi Allah alangkah baiknya kubiarkan saja unta itu [Shahih Bukhari 4/105-106 no 3191]

Hadis ini menunjukkan tabiat orang-orang bani Tamim yang tidak memiliki kepedulian terhadap ilmu agama. Dalam riwayat lain disebutkan bahkan wajah Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menjadi berubah ketika mendengar jawaban dari orang-orang bani Tamim. Jadi bisa dimaklumi kalau orang-orang dengan tabiat seperti ini menjadi cikal bakal kaum khawarij. Tentu saja sekali lagi kami tidak menyatakan bahwa begitulah semua orang dari bani Tamim, sudah cukup dikenal sebagian sahabat Nabi dari bani Tamim yang setia dan taat kepada Nabi [shallallahu ‘alaihi wasallam].

Pernah suatu ketika delegasi bani tamim datang menghadap Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam diantara mereka terdapat Aqra’ bin Habis At Tamimi, Uyainah bin Hishn, Qais bin Harits, Qais bin Ashim, dan Utharid bin Hajib. Mereka datang ke rumah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berteriak memanggil Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dari luar sehingga turunlah ayat “sesungguhnya orang-orang yang memanggilmu ke luar kamarmu kebanyakan mereka tidak mengerti” [Al Hujurat ayat 4] dan diantara mereka terdapat Utharid bin Hajib yang berkata

فقام عطارد بن حاجب فقال الحمد لله الذي له علينا الفضل والمن وهو أهله الذي جعلنا ملوكا ووهب لنا أموالا عظاما نفعل فيها المعروف وجعلنا أعز أهل المشرق وأكثره عددا وأيسره عدة ، فمن مثلنا في الناس ؟ ألسنا برءوس الناس وأولي فضلهم ؟ فمن فاخرنا فليعدد مثل ما عددنا وإنا لو نشاء لأكثرنا الكلام ولكنا نحيا من الإكثار فيما أعطانا وإنا نعرف بذلك أقول هذا لأن تأتوا بمثل قولنا وأمر أفضل من أمرنا ثم جلس

Maka Uthaarib bin Haajib berdiri dan berkata “segala puji bagi Allah yang telah memberikan kepada kami keutamaan dan karunia dan Dialah yang berhak untuk dipuji. Dia yang telah menjadikan kami sebagai raja dan memberikan kepada kami harta yang banyak kemudian kami berbuat baik dengan harta itu. Dia menjadikankami sebagai orang-orang timur [ahlul masyriq] yang paling kuat, paling banyak jumlahnya dan lengkap persenjataannya. Siapakah diantara manusia yang seperti kami?. Bukankah kami adalah pemimpin mereka dan paling utama diantara mereka?. Siapa yang dapat menyaingi kami maka hendaknya ia menyebutkan seperti apa yang telah kami sebutkan. Dan jika kami mau kami bisa mengatakan yang lebih banyak lagi tetapi kami malu menyebutkan semua yang telah diberikan kepada kami, hal itu telah kami ketahui. Inilah perkataan kami dan hendaknya kalian mengatakan seperti yang telah kami katakan atau bahkan lebih utama dari apa yang kami sebutkan, kemudian ia duduk[Sirah Ibnu Hisyam 2/562]

Kisah ini menyebutkan bagaimana tabiat kasar dari bani tamim. Mereka berteriak memanggil Nabi dari luar bilik Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan tentu sebagai sebuah delegasi tidak sewajarnya bersikap seperti itu. Dari kisah di atas kita dapat melihat bahwa bani Tamim memang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sehingga mereka dengan bangga mengatakannya di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Disini kita dapat melihat apa kaitannya Khawarij dengan arah timur?. Khawarij dicetuskan oleh Dzul Khuwaisirah dari bani tamim dan para sahabatnya yang dikenal sebagai orang-orang timur [masyriq] di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Hadis Sahl bin Hunaif  Tentang Khawarij

أخبرنا محمد بن آدم بن سليمان عن محمد بن فضيل عن بن إسحاق عن يسير بن عمرو قال دخلت على سهل بن حنيف قلت له أخبرني ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم في الحرورية قال أخبرك ما سمعت من رسول الله صلى الله عليه و سلم لا أزيد عليه سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم وضرب بيده نحو المغرب قال يخرج من هاهنا قوم يقرؤون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Adam bin Sulaiman dari Muhammad bin Fudhail dari Abu Ishaq dariYusair bin ‘Amru yang berkata “aku masuk menemui Sahl bin Hunaif kemudian aku berkata ‘kabarkanlah padaku apa yang engkau dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tentang Haruriyah, [Sahl] berkata aku akan mengabarkan kepadamu apa yang aku dengar dari Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] tidak lebih, aku mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] dan Beliau memukulkan tangannya ke arah barat dan berkata “akan keluar dari sini kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya” [Sunan Nasa’i 5/32 no 8090]

Hadis ini sanadnya shahih, Muhammad bin Adam bin Sulaiman adalah gurunya Nasa’i dan Abu Hatim. Abu Hatim menyatakan shaduq, Nasa’i menyatakan tsiqat [At Tahdzib juz 9 no 41] dan selebihnya adalah perawi Bukhari Muslim.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا علي بن مسهر عن الشيباني عن يسير بن عمرو قال سألت سهل بن حنيف هل سمعت النبي صلى الله عليه و سلم يذكر الخوارج ؟ فقال سمعته ( وأشار بيده نحو المشرق ) قوم يقرأون القرآن بألسنتهم لا يعدوا تراقيهم يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin Mushir dari Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru yang berkata “aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif “apakah engkau mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyebutkan tentang Khawarij?. Sahl berkata aku mendengarnya, dan ia menyisyaratkan tangannya ke arah timur[dan berkata] muncul kaum yang membaca Al Qur’an dengan lisan mereka tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya [Shahih Muslim 2/750 no 1068]

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ حَدَّثَنَا الشَّيْبَانِيُّ حَدَّثَنَا يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو قَالَ قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ

Telah menceritakan kepada kami Musa bin Ismail yang berkata telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahid yang berkata telah menceritakan kepada kami Asy Syaibani yang berkata telah menceritakan kepada kami Yusair bin ‘Amru yang berkata ‘aku bertanya kepada Sahl bin Hunaif apakah engkau pernah mendengar Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] mengatakan sesuatu tentang khawarij?. [Sahl] berkata “aku mendengarnya mengatakan dan ia mengarahkan tangannya ke Irak “akan keluar darinya kaum yang membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari islam seperti anak panah lepas dari busurnya” [Shahih Bukhari 9/17 no 6934]

Kalau kita perhatikan ketiga hadis Sahl bin Hunaif di atas, semuanya berujung pada sanad yang sama yaitu dari Abu Ishaq Asy Syaibani dari Yusair bin ‘Amru dari Sahl bin Hunaif tetapi terdapat keanehan dalam penunjukkan isyarat. Terkadang disebutkan isyarat ke arah barat, terkadang disebutkan isyarat ke arah timur dan terkadang disebutkanisyarat ke arah Iraq. Ketidak akuratan ini kemungkinan berasal dari Yusair bin ‘Amru, ia dinyatakan tsiqat oleh Al Ijli, Ibnu Hibban dan Ibnu Sa’ad tetapi walaupun begitu Ibnu Hazm menyatakan“tidak kuat” [At Tahdzib juz 11 no 639].

Riwayat yang mahfuzh adalah yang menyatakan penunjukkan isyarat ke arah timur karena terdapat hadis dengan lafaz yang jelas kalau Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] menyatakan “timur”yaitu hadis dimana Rasulullah [shallallahu ‘alaihi wasallam] bersabda

قال قوم يخرجون من المشرق يقرأون القرآن لا يجاوز تراقيهم يمرقون من الدين مروق السهم من الرمية

[Rasulullah] bersabda “akan keluar suatu kaum dari arah timur, mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak melewati tenggorokan mereka, mereka keluar dari agama seperti anak panah yang lepas dari busurnya”

Hadis dengan lafaz ini diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ali radiallahu ‘anhu dan Abu Sa’id Al Khudri radiallahu ‘anhu. Riwayat Ali disebutkan Ahmad dalam Fadhail Ash Shahabah no 1223, Ibnu Abi Ashim dalam As Sunnah no 913, Abu Ya’la dalam Musnad-nya 1/375 no 482 dan Nasa’i dalam Sunan Nasa’i5/162 no 8568. Riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan dalam Musnad Abu Ya’la 2/408 no 1193 dengan sanad yang shahih.

Keutamaan Yang Memerangi Khawarij

Tidak diragukan kalau khawarij ini telah diperangi oleh Imam Ali di Nahrawan sebagaimana yang telah disebutkan dalam riwayat yang shahih. Jika kita melihat hadis-hadis tersebut secara keseluruhan maka diketahui bahwa asal muasal khawarij ini berasal dari Najd dan kebanyakan mereka adalah dari bani tamim pengikut Dzul Khuwaisirah. Mereka bersama-sama keluar dengan Imam Ali untuk memerangi Muawiyah tetapi akhirnya dalam peristiwa tahkim mereka membelot dari Imam Ali sehingga terjadilah perperangan di Nahrawan Irak. Terdapat keutamaan yang besar bagi mereka yang memerangi kaum khawarij. Hal ini telah disebutkan oleh Imam Ali dalam riwayat yang shahih

حدثنا عبد الله حدثني أبي ثنا إسماعيل ثنا أيوب عن محمد عن عبيدة عن على رضي الله عنه قال ذكر الخوارج فقال فيهم مخرج اليد أو مودن اليد أو مثدن اليد لولا ان تبطروا لحدثتكم بما وعد الله الذين يقتلونهم على لسان محمد قلت أنت سمعته من محمد قال إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة إي ورب الكعبة

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah yang berkata telah menceritakan kepadaku ayahku yang berkata telah menceritakan kepada kami Ismail  yang berkata telah menceritakan kepada kami Ayub dari Muhammad dari ‘Abidah dari Ali radiallahu ‘anhu, ia berkata Ali menyebutkan tentang khawarij, lalu berkata “di antara mereka ada seorang laki-laki hitam yang pendek tangannya atau salah satu dari kedua tangannya pendek seperti payudara wanita . Sekiranya aku tidak takut kalian menjadi sombong , niscaya akan aku katakana apa yang dijanjikan Allah sesuai dengan lisan Muhammad ganjaran kepada orang-orang yang membunuh mereka. Aku berkata “apakah kamu mendengarnya dari Muhammad?”. Ali berkata “Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah , Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah, Ya demi Tuhan pemilik Ka’bah”[Musnad Ahmad 1/83 no 6262 Syaikh Syu’aib Al Arnauth berkata “sanadnya shahih dengan syarat Bukhari Muslim”]

Siapakah yang memerangi mereka, tidak diragukan lagi kalau yang memerangi mereka adalah pengikut Imam Ali yaitu para penduduk Iraq, merekalah yang mendapatkan keutamaan yang disebutkan Imam Ali di atas. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh Abu Sa’id Al Khudri yang berkata

قال أنتم قتلتموهم يا أهل العراق

Abu Sa’id berkata “kalian telah memerangi mereka wahai penduduk Irak”

Riwayat Abu Sa’id ini disebutkan dengan sanad yang shahih oleh Nasa’i dalamSunan Nasa’i 5/158 no 8558 dan Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1346, kemudian juga disebutkan oleh Abdullah bin Ahmad dalam As Sunnah no 1412 dengan lafaz “segala puji bagi Allah yang menjadikan penduduk Irak memerangi mereka”

Hadis Khawarij tidaklah menjadi hujjah untuk menafikan hadis Najd bahkan bisa dikatakan kalau khawarij sendiri bersumber dari Najd. Perang terhadap kaum khawarij yang dilakukan imam Ali memang terjadi di Nahrawan Iraq tetapi sumber munculnya atau asal usul khawarij itu bermula dari penduduk Najd yaitu Dzul Khuwaisirah dan para sahabatnya. Jadi disini hadis fitnah Najd masih klop atau sesuai dengan hadis fitnah khawarij.

Oleh karena itu, janganlah kita tertipu dengan banyak dan kuatnya ibadah mereka; meski selalu shalat di malam hari dan puasa di siang hari, namun amal kebaikan mereka tidak bermanfaat sedikitpun disebabkan kedurhakaan mereka kepada Allah dan Rasul-Nya serta menyelewengkan makna ayat-ayat Al Qur’an sesuai dengan hawa nafsunya. Patokannya bukanlah banyak sedikitnya suatu ibadah, namun cocok tidaknya seseorang di atas sunnah. Karenanya, Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- memerintahkan kita untuk memerangi mereka sebagaiamana yang ditegaskan oleh Rasulullah -Sholllallahu alaihi wa sallam- .

سَيَخْرُجُ فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ عِنْدَ اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Akan keluar di akhir zaman, suatu kaum yang muda-muda umurnya lagi pendek akalnya. Mereka mengucapkan ucapan sebaik-baik manusia. Mereka membaca Al-Qur’an (tapi) tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat (keluar) dari (batas-batas) agama ini seperti melesatnya anak panah dari (sasaran) buruannya. Maka jika kalian mendapati mereka(Khawarij), perangilah mereka! Karena sesungguhnya orang-orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat” .(HR. Al Bukhari (6930) Muslim (1066)

Kafirkah Kaum Khawarij???


Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam telah memperingatkan,

قَوْمٌ يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ لاَ يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الإِسْلاَمِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الأَوْثَانِ لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ لأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Mereka adalah satu kaum yang membaca Al-Qur’an namun tidak malampaui kerongkongan mereka (tidak memahami Al-Qur’an dengan baik), mereka keluar dari agama bagaikan anak panah yang menembus buruannya, mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan kaum musyrikin. Andaikan aku bertemu mereka, maka akan kubunuh mereka seperti pembunuhan kepada kaum ‘Aad.” [HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radhiyallahu’anhu]

Mereka juga membunuh Sahabat yang Mulia Abdullah bin Khabbab radhiyallahu’anhuma dan budak perempuannya yang sedang hamil secara sadis dan kejam. Al-Hafiz Ibnu Hajar Asy-Syafi’i rahimahullah berkata,

ثُمَّ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنَّ مَنْ لَا يَعْتَقِدُ مُعْتَقَدَهُمْ بِكفْر وَيُبَاحُ دَمُهُ وَمَالُهُ وَأَهْلُهُ وَانْتَقَلُوا إِلَى الْفِعْلِ فَاسْتَعْرَضُوا النَّاسَ فَقَتَلُوا مَنِ اجْتَازَ بِهِمْ مِنَ الْمُسْلِمِينَ وَمَرَّ بِهِمْ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ خَبَّابِ بْنِ الْأَرَتِّ وَكَانَ وَالِيًا لِعَلِيٍّ عَلَى بَعْضِ تِلْكَ الْبِلَادِ وَمَعَهُ سُرِّيَّةٌوَهِيَ حَامِلٌ فَقَتَلُوهُ وبقروا بطن سُرِّيَّتِهِ عَنْ وَلَدٍ فَبَلَغَ عَلِيًّا فَخَرَجَ إِلَيْهِمْ فِي الْجَيْشِ الَّذِي كَانَ هَيَّأَهُ لِلْخُرُوجِ إِلَى الشَّامِ فَأَوْقَعَ بِهِمْ بِالنَّهْرَوَانِ وَلَمْ يَنْجُ مِنْهُمْ إِلَّا دُونَ الْعَشَرَةِ وَلَا قُتِلَ مِمَّنْ مَعَهُ إِلَّا نَحْوُ الْعَشَرَةِ

“Kemudian mereka (kaum Khawarij) bersepakat atas kafirnya orang yang tidak meyakini keyakinan mereka dan halal darahnya, hartanya dan keluarganya, setelah itu mereka berpindah kepada tindakan fisik; mereka menghadang manusia lalu membunuh siapa pun kaum muslimin yang melewati daerah mereka, dan tatkala Abdullah bin Khabbab bin Al-Aratt radhiyallahu’anhuma melewati mereka –beliau ketika itu adalah Gubernur Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu di sebagian wilayah yang mereka tempati- beliau lewat bersama seorang budak perempuan yang sedang hamil, maka mereka membunuh beliau dan merobek perut budak perempuannya untuk mengeluarkan bayinya, maka sampailah berita tersebut kepada Ali, beliau pun segera keluar menuju mereka bersama pasukan yang tadinya beliau siapkan untuk menuju Syam, beliau memerangi mereka di Nahrawan, dan tidak ada dari mereka yang selamat kecuali kurang dari sepuluh orang, dan tidak ada yang terbunuh dari pasukan Ali radhiyallahu’anhu kecuali sekitar sepuluh orang saja.”

Sebagaimana mereka juga membunuh orang tua Tabi’in yang Mulia Sa’id bin Jumhan rahimahullah, sebagaimana penuturan beliau,

أَتَيْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ أَبِي أَوْفَى وَهُوَ مَحْجُوبُ الْبَصَرِ ، فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ، قَالَ لِي : مَنْ أَنْتَ ؟ فَقُلْتُ : أَنَا سَعِيدُ بْنُ جُمْهَانَ ، قَالَ : فَمَا فَعَلَ وَالِدُكَ ؟ قَالَ : قُلْتُ : قَتَلَتْهُ الأَزَارِقَةُ ، قَالَ : لَعَنَ اللَّهُ الأَزَارِقَةَ ، لَعَنَ اللَّهُ الأَزَارِقَةَ ، حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُمْ كِلاَبُ النَّارِ ، قَالَ : قُلْتُ : الأَزَارِقَةُ وَحْدَهُمْ أَمِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا ؟ قَالَ : بَلِ الْخَوَارِجُ كُلُّهَا . قَالَ : قُلْتُ : فَإِنَّ السُّلْطَانَ يَظْلِمُ النَّاسَ ، وَيَفْعَلُ بِهِمْ ، قَالَ : فَتَنَاوَلَ يَدِي فَغَمَزَهَا بِيَدِهِ غَمْزَةً شَدِيدَةً ، ثُمَّ قَالَ : وَيْحَكَ يَا ابْنَ جُمْهَانَ عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ ، عَلَيْكَ بِالسَّوَادِ الأَعْظَمِ إِنْ كَانَ السُّلْطَانُ يَسْمَعُ مِنْكَ ، فَأْتِهِ فِي بَيْتِهِ ، فَأَخْبِرْهُ بِمَا تَعْلَمُ ، فَإِنْ قَبِلَ مِنْكَ ، وَإِلاَّ فَدَعْهُ ، فَإِنَّكَ لَسْتَ بِأَعْلَمَ مِنْهُ.

“Aku pernah mendatangi Abdullah bin Abi Aufa -radhiyallahu’anhu- dan beliau adalah seorang yang buta. Aku mengucapkan salam kepadanya, lalu ia berkata kepadaku, “Siapakah kamu?” Aku berkata, “Aku Sa’id bin Jumhan”. Beliau berkata, “Apa yang terjadi pada bapakmu?” Aku berkata, “Kaum Khawarij Al-Azaariqoh telah membunuhnya”. Beliau berkata, “Semoga Allah melaknat Al-Azariqoh, semoga Allah melaknat Al-Azariqoh. Rasulullah -shallallahu’alaihi wa sallam- mengabarkan kepada kami bahwa mereka dalah anjing-anjing neraka”. Aku berkata, “Apakah Al-Azariqoh saja atau Khawarij seluruhnya?” Beliau berkata, “Bahkan Khawarij seluruhnya”. Aku berkata, “Sesungguhnya penguasa telah menzalimi manusia dan semana-mena terhadap mereka”. Beliau pun menarik tanganku dengan keras seraya berkata, “Celaka engkau wahai Ibnu Jumhan, hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul a’zhom (Ahlus Sunnah), hendaklah engkau mengikuti as-sawaadul a’zhom (Ahlus Sunnah). Apabila penguasa mau mendengar nasihatmu, maka datangilah ia di rumahnya, lalu kabarkan kepadanya apa yang kamu ketahui, semoga ia menerima nasihat darimu.  Jika tidak, maka tinggalkan ia, karena sesungguhnya engkau tidak lebih tahu darinya.” [HR. Ahmad dalam Al-Musnad (4/382), Al-Hakim dalam Al-Mustadrok (no. 6435) dan Ibnu Abi ‘Ashim dalam As-Sunnah (no. 905)]

Itulah mazhab mereka yang menunjukkan bahaya bid’ah dalam agama, sebagaimana telah diperingatkan para ulama sejak dulu. Al-Imam Abu Qilabah rahimahullah berkata,

ما ابتدع قوم بدعة إلا استحلوا فيها السيف

“Tidaklah satu kaum berbuat bid’ah (mengada-ada dalam agama) kecuali mereka akan menghalalkan pedang dalam kebid’ahan itu.”

Al-Imam Ayyub As-Sikhtiyani rahimahullah menganggap ahlul bid’ah seluruhnya adalah Khawarij (pemberontak) dan beliau berkata,

إن الخوارج اختلفوا في الاسم، واجتمعوا على السيف

“Sesungguhnya kaum Khawarij (pemberontak) itu berbeda-beda namanya, namun bersatu di atas pedang.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

أَهْلُ الْبِدَعِ مَعَ الْقُدْرَةِ يُشْبِهُونَ الْكُفَّارَ فِي اسْتِحْلَالِ قَتْلِ الْمُؤْمِنِينَ وَتَكْفِيرِهِمْ كَمَا يَفْعَلُهُ الْخَوَارِجُ وَالرَّافِضَةُ وَالْمُعْتَزِلَةُ وَالْجَهْمِيَّةُ وَفُرُوعُهُمْ لَكِنَّ فِيهِمْ مَنْ يُقَاتِلُ بِطَائِفَةٍ مُمْتَنِعَةٍ كَالْخَوَارِجِ وَالزَّيْدِيَّةِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَسْعَى فِي قَتْلِالْمَقْدُورِ عَلَيْهِ مِنْ مُخَالِفِيهِ إمَّا بِسُلْطَانِهِ وَإِمَّا بِحِيلَتِهِ وَمَعَ الْعَجْزِ يُشْبِهُونَ الْمُنَافِقِينَ يَسْتَعْمِلُونَ التَّقِيَّةَ وَالنِّفَاقَ كَحَالِ الْمُنَافِقِينَ

“Ahlul bid’ah apabila memiliki kekuatan maka mereka menyerupai orang-orang kafir dalam menghalalkan darah dan mengkafirkan kaum muslimin seperti yang dilakukan Khawarij, Syi’ah, Mu’tazilah, Jahmiyyah dan cabang-cabang mereka, akan tetapi di tengah-tengah mereka ada yang berperang dengan kelompok yang tidak mau tunduk seperti Khawarij dan Zaidiyyah, dan diantara mereka ada yang masih tetap membunuh orang yang telah mereka kuasai yang menyelisihi mereka, apakah mereka membunuhnya dengan  kekuasaan ataukah dengan tipu daya. Dan sebaliknya, ahlul bid’ah apabila dalam keadaan lemah maka mereka menyerupai orang-orang munafiq, mereka menggunakan taqiyyah (berpura-pura) dan kemunafikan seperti keadaan orang-orang munafiq.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga mengingatkan,

وكذلك الخوارج: لمّا كانوا أهل سيف وقتال، ظهرت مخالفتهم للجماعة؛ حين كانوا يقاتلون الناس. وأما اليوم فلا يعرفهم أكثر الناس.

“Demikian pula Khawarij, tatkala mereka menyandang senjata dan perang, maka nampaklah penyelisihan mereka terhadap al-jama’ah ketika mereka memerangi manusia, adapun hari ini kebanyakan orang tidak mengenali mereka.”

Dan diantara bentuk kekejaman mereka di masa ini adalah membunuh kaum muslimin dengan api, padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّهُ لَا يَنْبَغِي أَنْ يُعَذِّبَ بِالنَّارِ إِلَّا رَبُّ النَّارِ

“Sungguh tidak boleh menyiksa dengan api kecuali (Allah) Rabb-nya api.” [HR. Abu Daud dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu, Ash-Shahihah: 487]

Bahkan kepada orang kafir pun, walau ada khilaf ulama, pendapat yang kuat insya Allah bahwa hal itu terlarang, berdasarkan hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu, beliau berkata,

بَعَثَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْثٍ فَقَالَ: «إِنْ وَجَدْتُمْ فُلاَنًا وَفُلاَنًا فَأَحْرِقُوهُمَا بِالنَّارِ»، ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ أَرَدْنَا الخُرُوجَ: «إِنِّي أَمَرْتُكُمْ أَنْ تُحْرِقُوا فُلاَنًا وَفُلاَنًا، وَإِنَّ النَّارَ لاَ يُعَذِّبُ بِهَا إِلَّا اللَّهُ، فَإِنْ وَجَدْتُمُوهُمَا فَاقْتُلُوهُمَا»

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam mengutus kami dalam sebuah pasukan seraya bersabda: “Apabila kalian berhasil menangkap fulan dan fulan bakarlah keduanya dengan api”. Kemudian Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda ketika kami sudah hendak berangkat: Sesungguhnya aku telah memerintahkan kalian untuk membakar fulan dan fulan, sesungguhnya tidak boleh menyiksa dengan api kecuali Allah, maka apabila kalian berhasil menangkap keduanya maka bunuhlah mereka (tanpa dibakar).” [HR. Al-Bukhari]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata,

وَأَمَّا حَدِيثُ الْبَابِ فَظَاهِرُ النَّهْيِ فِيهِ التَّحْرِيمُ

“Adapun hadits ini maka yang nampak jelas adalah larangan dalam hadits ini merupakan pengharaman.”

Adapun perbuatan sebagian sahabat yang mungkin belum sampai kepada mereka larangan ini sehingga mereka membakar sebagian orang kafir berdasarkan ijtihad, seperti ijtihad Abu Bakr radhiyallahu’anhu yang memerintahkan Khalid bin Walid radhiyallahu’anhu untuk membakar orang-orang yang murtad dan ijtihad Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu ketika membakar orang-orang Syi’ah yang menuhankan beliau, tidaklah patut dipertentangkan dengan hadits Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.

Kafirkah Kaum Khawarij??

Para ulama berbeda pendapat tentang hal ini yang secara umum terbagi menjadi dua pendapat. Di antara mereka ada yang berpendapat tentang kekafirannya berdasarkan dhahir hadits :

حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَاحِدِ، حَدَّثَنَا الشَّيْبَانِيُّ، حَدَّثَنَا يُسَيْرُ بْنُ عَمْرٍو، قَالَ، قُلْتُ لِسَهْلِ بْنِ حُنَيْفٍ: هَلْ سَمِعْتَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي الْخَوَارِجِ شَيْئًا؟، قَالَ: سَمِعْتُهُ يَقُولُ وَأَهْوَى بِيَدِهِ قِبَلَ الْعِرَاقِ: " يَخْرُجُ مِنْهُ قَوْمٌ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنَ الرَّمِيَّةِ "

Telah menceritakan kepada kami Muusaa bin Ismaa’iil : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waahid : Telah menceritakan kepada kami Asy-Syaibaaniy : Telah menceritakan kepada kami Yusair bin ‘Amru, ia berkata : Aku berkata kepada Sahl bin Hunaif : “Apakah engkau pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda sesuatu tentang Khawarij ?”. Ia menjawab : “Aku pernah mendengar beliau bersabda sambil mengarahkan tangannya ke ‘Iraaq : ‘Akan keluar darinya satu kaum yang membaca Al-Qur’aan namun tidak melebihi/melewati kerongkongan mereka. Mereka keluar dari Islam seperti keluarnya anak panah dari busurnya” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6934].

حَدَّثَنَا عَفَّانُ، حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ، حَدَّثَنَا حُمَيْدٌ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ بَعْدِي مِنْ أُمَّتِي قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَلَاقِيمَهُمْ يَخْرُجُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَخْرُجُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ، ثُمَّ لَا يَعُودُونَ إِلَيْهِ، شَرُّ الْخَلْقِ وَالْخَلِيقَةِ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Affaan : Telah menceritakan kepada kami Sulaimaan bin Al-Mughiirah : Telah menceritakan kepada kami Humaid : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Ash-Shaamit, dari Abu Dzarr, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Sesungguhnya sepeninggalku nanti ada satu kaum dari kalangan umatku yang membaca Al-Qur’an namun tidak sampai melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya, yang kemudian ia tidak kembali padanya (agama). Seburuk buruk makhluk dan ciptaan” [Diriwayatkan oleh Ahmad dalam Al-Musnad, 5/31; shahih].

Ulama lain berpendapat kelompok Khawaarij tidak dikafirkan. Inilah pendapat jumhur ulama. Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وَذَهَبَ أَكْثَرُ أَهْل الْأُصُول مِنْ أَهْل السُّنَّة إِلَى أَنَّ الْخَوَارِج فُسَّاق وَأَنَّ حُكْم الْإِسْلَام يَجْرِي عَلَيْهِمْ لِتَلَفُّظِهِمْ بِالشَّهَادَتَيْنِ وَمُوَاظَبَتِهِمْ عَلَى أَرْكَان الْإِسْلَام ، وَإِنَّمَا فُسِّقُوا بِتَكْفِيرِهِمْ الْمُسْلِمِينَ مُسْتَنِدِينَ إِلَى تَأْوِيل فَاسِد وَجَرَّهُمْ ذَلِكَ إِلَى اِسْتِبَاحَة دِمَاء مُخَالِفِيهِمْ وَأَمْوَالهمْ وَالشَّهَادَة عَلَيْهِمْ بِالْكُفْرِ وَالشِّرْك

“Kebanyakan ahli ushul dari kalangan Ahlus-Sunnah berpendapat bahwasannya Khawaarij itu adalah fasiq dan hukum Islam (muslim) berlaku pada mereka karena dua kalimat syahadat yang mereka ucapkan dan rukun-rukun Islam yang mereka lakukan. Mereka difasikkan hanyalah karena pengkafiran mereka terhadap kaum muslimin dengan bersandar pada ta’wil fasid (rusak); sehingga menyebabkan mereka menghalalkan darah dan harta orang-orang yang yang menyelisihi mereka, serta mempersaksikannya dengan kekufuran dan kesyirikan” [Fathul-Baariy, 12/300].

Ibnu Qudaamah rahimahullah berkata :

الْخَوَارِجُ الَّذِينَ يُكَفِّرُونَ بِالذَّنْبِ ، وَيُكَفِّرُونَ عُثْمَانَ وَعَلِيًّا وَطَلْحَةَ وَالزُّبَيْرَ ، وَكَثِيرًا مِنْ الصَّحَابَةِ ،وَيَسْتَحِلُّونَ دِمَاءَ الْمُسْلِمِينَ ، وَأَمْوَالَهُمْ ، إلَّا مَنْ خَرَجَمَعَهُمْ ، فَظَاهِرُ قَوْلِ الْفُقَهَاءِ مِنْ أَصْحَابِنَا الْمُتَأَخِّرِينَ أَنَّهُمْ بُغَاةٌ ، حُكْمُهُمْ حُكْمُهُمْ. وَهَذَا قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ ، وَالشَّافِعِيِّ ، وَجُمْهُورِ الْفُقَهَاءِ ،وَكَثِيرٍ مِنْ أَهْلِ الْحَدِيثِ

“Khawaarij yang mengkafirkan dengan sebab dosa besar, mengkafirkan ‘Utsmaan, ‘Aliy, Thalhah, Az-Zubair, dan banyak orang dari kalangan shahabat, serta menghalalkan darah dan harta kaum muslimin kecuali orang yang keluar bersama mereka; maka yang dhahir pendapat para fuqahaa’ dan shahabat-shahabat kami belakangan menyatakan mereka itu bughat (pembangkang). Hukum mereka (Khawaarij) adalah hukum bughat (tidak kafir). Ini adalah pendapat Abu Haniifah, Asy-Syaafi’iy, jumhur fuqahaa’, dan banyak ulama dari kalangan ahli hadits” [Al-Mughniy, 8/106].

Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata:

لأَنَّ الْمَذْهَبَ الصَّحِيْحَ الْمُخْتَارَ الَّذِي قَالَهُ الأَكْثَرُوْنَ وَالْمُحَقِّقُوْنَ أَنَّ الْخَوَارِجَ لاَ يَكْفُرُوْنَ كَسَائِرِ أَهْلِ الْبِدَعِ

“Karena madzhab/pendapat yang benar yang terpilih yang merupakan pendapat mayoritas dan para ahli tahqiq bahwasanya khawarij tidaklah kafir sebagaimana ahlu bid’ah yang lainnya’ (Al-Minhaaj syarh shahih Muslim 2/50)

Al-Khotthoobi rahimahullah berkata:

أَجْمَعُوا عَلَى أَنَّهُمْ عَلَى ضَلاَلِهِمْ مُسْلِمُوْنَ

“Mereka telah ijmak/sepakat bahwasanya meskipun khawarij di atas kesesatan akan tetapi mereka adalah kaum muslimin” (Faidul Qodiir 3/679).

Ibnu Abdil Bar rahimahullah meriwayatkan dengan sanadnya dari Ali bin Abi Tholib bahwasanya beliau tidak mengkafirkan khawarij.

أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ أَهْلِ النَّهْرَوَانِ أَكُفَّارٌ هُمْ؟ قَالَ : مِنَ الْكُفْرِ فَرُّوْا، قِيْلَ فَمُنَافِقُوْنَ هُمْ؟ قَالَ : إِنَّ الْمُنَافِقِيْنَ لاَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ إِلاَّ قَلِيْلاَ. قِيْلَ : فَمَا هُمْ؟ قَالَ : قَوْمٌ أَصَابَتْهُمْ فِتْنَةٌ فَعَمُوْا فِيْهَا وَصَمُّوْا وَبَغَوْا عَلَيْنَا وَحَارَبُوْنَا وَقَاتَلُوْنَا فَقَتَلْنَاهُمْ

Ali bin Abi Tholib ditanya tentang ahlu Nahrawan (yaitu kahawrij), “Apakah mereka kafir?”, maka beliau menjawab, “Mereka (khawarij) lari dari kekufuran”. Maka dikatakan kepada beliau, “Apakah khawarij munafiq?”, beliau berkata, “Kaum munafiq tidaklah mengingat Allah kecuali hanya sedikit”. Lantas siapa mereka?, beliau berkata, “Mereka adalah kaum yang tertimpa fitnah sehingga akhirnya mereka menjadi buta dan tuli dalam fitnah tersebut, dan memberontak kepada kami, serta memerangi kami, maka kamipun membunuh mereka”

Riwayat perkataan Ali bin Abi Tholib ini banyak disebutkan oleh para ulama dalam buku-buku mereka dan dijadikan dalil oleh mereka bahwasanya khawarij tidaklah kafir, seperti Imam An-Nawawi dalam kitab Al-Majmuu’ syarh Al-Muhadzdzab 19/193, Ibnu Bathhool dalam syarah Shahih Al-Bukhari, 8/585, Ibnu Qudaamah Al-Hanbali dalam kitab Al-Mughni 10/46, Az-Zarqooni dalam syarh Muwattho’ Al-Imam Malik 2/26, Al-Munaawi As-Syafii dalam kitab Faidul Qodiir 3/679. Ibnu Bathhool berkata tentang riwayat Ali ini :

 وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ مِنْ طُرُقٍ

“Telah diriwayatkan dari Ali bin Abi Tholib dari beberapa jalan” (Syarh Shahih Al-Bukhari 8/585)

Oleh karenanya tidak kafirnya khawarij adalah pendapat Ali bin Abi Tholib dan pendapat para sahabat yang ikut dalam pasukan Ali tatkala memerangi khawarij. Karenanya Ali bin Abi Tholib tidaklah menjadikan istri-istri khawarij sebagai gonimah.

Demikianlah pendapat para sahabat dan mayoritas ulama tentang kaum khawarij yang telah diperangi oleh Ali bin Abi Tholib, kaum yang bengis yang telah disifati oleh Nabi dengan sifat-sifat yang brutal dan bodoh, serta Nabi menjanjikan ganjaran besar bagi orang-orang yang memerangi mereka.

Ciri Ciri Khowarij

Dari shahabat ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata: “Aku mendengar Rasulullah sahallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

سيخرج في آخر الزمان قوم أحداث الأسنان، سفهاء الأحلام، يقولون من خير قول البرية، يقرأون القرآن لا يجاوز حناجرهم، يمرقون من الدين كما يمرق السهم من الرمية، فإذا لقيتموهم فاقتلوهم فإن في قتلهم أجراً لمن قتلهم عند الله يوم القيامة

“Akan keluar pada akhir zaman nanti sekelompok orang yang mereka masih muda-muda umurnya dan pendek akalnya. Mereka mengatakan sebaik-baik perkataan manusia. Mereka membaca Al-Quran, (akan tetapi) tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka melesat keluar dari batas-batas agama ini seperti melesatnya anak panah keluar dari tubuh buruannya. Maka apabila kalian mendapati mereka perangilah mereka karena sesungguhnya orang-orang yang memerangi mereka akan mendapat pahala di sisi Allah pada hari kiamat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kaum Khawarij tidak diketahui oleh kebanyakan manusia karena ahlul bid’ah dengan ciri-ciri mereka yang umum tidak mampu dibedakan oleh kebanyakan manusia kecuali jika mereka (kaum Khawarij tersebut) mempunyai kekuasaan dan kekuatan atau hidup mereka terpisah dengan orang-orang yang menyelisihinya.

Disebut khawaarij, karena mereka keluar dari jama’ah kaum muslimin. Khawaarij generasi awal, mereka keluar dari jama’ah kaum muslimin di bawah pemerintahan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.

Asy-Syihristaaniy rahimahullah berkata :

كُلُّ مَنْ خَرَجَ على الإمام الحق الذي اتفقت الجماعة عليه يُسمّى خَارِجِياً، سواء كان الخُرُوجُ في أيام الصَّحَابة على الأئمة الرَّاشدين، أو كان بعدهم على التابعين بإحسان، والأئمة في كل زمان

“Setiap orang yang keluar ketaatan terhadap imam yang hak, yang disepakati oleh jama’ah, maka dinamakanKhaarijiy (orang Khawaarij). Sama saja apakah ia keluar terhadap al-imaam ar-raasyidiin pada masa shahabat; atau keluar ketaatan terhadap taabi’iin dan para imam di setiap jaman setelah masa shahabat” [Al-Milal wan-Nihal, 1/114].

Al-Barbaahaariy rahimahullah berkata :

ومن قال الصلاة خلف كل بر وفاجر والجهاد مع كل خليفة ولم ير الخروج على السلطان بالسيف ودعا لهم بالصلاح فقد خرج من قول الخوارج أوله وآخره

“Barangsiapa berkata : ‘(sah) shalat di belakang orang yang baik ataupun jahat, jihad bersama semua khaliifah serta tidak berpendapat bolehnya keluar ketaatan dari sulthaan dengan pedang dan mendoakan mereka dengan kebaikan; sungguh ia telah keluar dari perkataan Khawaarij dari awal hingga akhirnya” [Syarhus-Sunnah, ].

Perkataan Al-Barbahaariy di atas pada intinya mengkonsekuensikan pendefinisian yang serupa dengan Asy-Syihristaaniy.

Pendefinisian yang hanya mencakup keluar ketaatan dari imam yang sah ini terlalu umum dan kurang akurat, karena beberapa shahabat (‘Aaisyah, Thalhah, Az-Zubair, Mu’aawiyyah, dan yang lainnya) pernah terlibat perselisihan dengan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhum yang saat itu menjabat sebagai khalifah dan keluar ketaatan darinya; namun mereka tidak disebut sebagai Khawaarij berdasarkan kesepakatan. Pendefinisian ini merupakan pendefinisian umum secara siyaasiy tentang Khawaarij. Atau gampangnya : Benar, bahwasannya Khawaarij itu kelompok yang (membolehkan) keluar ketaatan dari imam yang sah, namun tidak semua yang keluar ketaatan dari imam yang sah itu disebut Khawaarij.

Ibnu Hazm rahimahullah berkata :

من وافق الخوارج من إنكار التحكيم، وتكفير أصحاب الكبائر، والقول بالخروج على الأئمة الجور، وأن أصحاب الكبائر مُخَلِّدُون في النَّار، وأَنَّ الإمامة جائزةٌ في غير قريش، فهو خارجِيٌّ

“Barangsiapa yang mencocoki Khawaarij dalam permasalahan pengingkaran terhadap tahkiim, pengkafiran para pelaku dosa besar, bolehnya keluar ketaatan terhadap para imam yang jahat/dhalim, para pelaku dosa besar kelak kekal di dalam neraka (bila selama hidupnya belum bertaubat), dan imamah diperbolehkan bagi selain Quraisy; maka ia adalah Khaarijiy (orang Khawaarij)” [Al-Fashl fil-Milal wan-Nihal, 2/270].

Pendefinisian Ibnu Hazm rahimahullah ini memasukkan pengkafiran terhadap pelaku dosa besar.

Ibnul-Jauziy rahimahullah berkata :

وما زالت الخوارج تخرج عَلَى الأمراء ولهم مذاهب مختلفة، وكان أصحاب نافع بْن الأزرق يقولون: نحن مشركون مَا دمنا فِي دار الشرك، فَإِذَا خرجنا فنحن مسلمون قالوا: ومخالفونا فِي المذهب مشركون، ومرتكبوا الكبائر مشركون، والقاعدون عَنْ موافقتنا فِي القتال كفرة، وأباح هؤلاء قتل النساء والصبيان من المسلمين، وحكموا عليهم بالشرك

“Khawaarij senantiasa keluar ketaatan terhadap umaraa’, dan mereka mempunyai beberapa madzhab yang bermacam-macam. Para pengikut Naafi’ bin Azraq berkata : ‘Kami berstatus musyrik selama kami tinggal di negeri syirik (Daarusy-Syirk). Apabila kami keluar darinya, maka status kami adalah muslim’. Mereka juga berkata : ‘Dan orang-orang yang menyelisihi kami dalam madzhab adalah orang-orang musyrik. Para pelaku dosa besar adalah musyrik. Orang-orang yang duduk berdiam diri untuk mendukung kami dalam peperangan, berstatus kafir’. Mereka (Khawaarij) membolehkan membunuh wanita dan anak-anak kaum muslimin, dan menghukumi mereka sebagai orang musyrik” [Talbiis Ibliis, 130-131].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

ولهم خاصتان مشهورتان فارقوا بهما جماعة المسلمين وأئمتهم‏:‏
أحدهما‏:‏ خروجهم عن السنة، وجعلهم ما ليس بسيئة سيئة، أو ما ليس بحسنة حسنة، ........‏
الفرق الثاني في الخوارج وأهل البدع‏:‏ أنهم يكفرون بالذنوب والسيئات‏.‏ ويترتب على تكفيرهم بالذنوب استحلال دماء المسلمين وأموالهم، وأن دار الإسلام دار حرب، ودارهم هي دار الإيمان‏.

“Mereka (Khawaarij) mempunyai dua kekhususan/ciri khas masyhur yang membedakan dengannya jama’ah kaum muslimin dan para imam mereka. Pertama, keluarnya mereka dari sunnah, sehingga menjadikan untuk mereka sesuatu yang bukan kejelekan sebagai kejelekan atau yang bukan kebaikan sebagai kebaikan.... Kedua, Khawaarij dan para pelaku bid’ah mengkafirkan seseorang dengan sebab dosa dan kesalahan. Akibat dari pengkafiran mereka dengan sebab dosa tersebut, mereka menghalalkan darah dan harta kaum muslimin. Mereka anggap negeri Islam (Daarul-Islaam) sebagai negeri yang mesti diperangi (Daarul-Harb), dan negeri yang mereka tinggali sebagai negeri iman (Daarul-Iimaan)” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 19/71-73].

Abul-Hasan Al-Asy’ariy rahimahullah berkata :

أجمعت الخوارج على إكفار علي بن أبي طالب - رضى الله عنه - إن حكم وهم مختلفون هل كفره شرك أم لا؟ وأجمعوا على أن كل كبيرة كفر إلا النجدات فإنها لا تقول ذلك

“Khawaarij sepakat tentang kekafiran ‘Aliy bin Abi Thaalibradliyallaahu ‘anhu, ketika ia mengangkat juru runding. Namun mereka berselisih pendapat apakah kekufurannya dikatagorikan syirik atau bukan. Dan mereka sepakat bahwa semua dosa besar mengkonsekuensikan kekafiran, kecuali kelompok An-Najdaat yang tidak berpendapat demikian” [Maqaalatul-Islaamiyyiin, 1/167].

Ibnu Taimiyyah rahimahullah berkata :

والخوارج هم أول من كفر المسلمين، يكفرون مَنْ خالفهم في بدعتهم، ويستحلون دمه وماله

“Khawaarij adalah kelompok yang pertama kali mengkafirkan kaum muslimin. Mereka mengkafirkan orang yang menyelisihi bid’ah merela dan menghalalkan darah dan hartanya” [Majmuu’ Al-Fataawaa, 3/349].

Ada beberapa nama lain bagi kelompok Khawaarij ini, di antaranya :

a.     Al-Haruuriyyah.

Mereka dinamakan dengan Al-Haruuriyyah dikarenakan keluarnya mereka pertama kali dari Haruuraa’, satu tempat di dekat Kuufah di negeri ‘Iraaq [Maqaalaatul-Islaamiyyiin 1/207, Al-Farqu Bainal-Firaq hal. 75, dan Syarh Shahiih Muslim lin-Nawawiy 7/170].

Istilah Haruuriyyah bagi Khawaarij banyak terdapat dalam riwayat, di antaranya :

حَدَّثَنَا عَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنْ عَاصِمٍ، عَنْ مُعَاذَةَ، قَالَتْ: " سَأَلْتُ عَائِشَةَ، فَقُلْتُ: مَا بَالُ الْحَائِضِ، تَقْضِي الصَّوْمَ، وَلَا تَقْضِي الصَّلَاةَ؟ فَقَالَتْ: أَحَرُورِيَّةٌ أَنْتِ؟ قُلْتُ: لَسْتُ بِحَرُورِيَّةٍ، وَلَكِنِّي أَسْأَلُ، قَالَتْ: كَانَ يُصِيبُنَا ذَلِكَ فَنُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ، وَلَا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلَاةِ "

Telah menceritakan kepada kami ‘Abd bin Humaid : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Abdurrazzaaq : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari ‘Aashim, dari Mu’aadzah, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada ‘Aaisyah. Aku katakan : ”Bagaimana dengan wanita haidl, ia mengqadla puasa namun tidak mengqadla shalat?”. Aaisyah menjawab : ”Apakah kamu seorang Haruuriyyah (Khaawarij)?”. Aku menjawab : ”Aku bukan Haruuriyyah, tapi aku sekedar bertanya”. Aisyah berkata : ”Kami pernah mengalami begitu. Lalu kami diperintahkan untuk mengqadla puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadla shalat” [Diriwayatkan oleh Muslim no. 335].

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

فمعنى قول عائشة رضي الله عنها أن طائفة من الخوارج يوجبون على الحائض قضاء الصلاة الفائتة في زمن الحيض وهو خلاف إجماع المسلمين،

“Makna perkataan ‘Aaisyah radliyallaahu ‘anhaa (yaitu : ‘apakah kamu seorang Haruuriyyah ?’ ) bahwasannya satu kelompok dari Khawaarij mewajibkan wanita haidl untuk mengqadlaa’ shalat yang ditinggalkan saat datang haidl. Dan hal itu menyelisihi ijma’ kaum muslimin” [Syarh Shahiih Muslim, 4/27].

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ، قَالَ: سَأَلْتُ أَبِي قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأَخْسَرِينَ أَعْمَالا هُمْ الْحَرُورِيَّةُ ؟ قَالَ: لَا، هُمْ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى، أَمَّا الْيَهُودُ فَكَذَّبُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَمَّا النَّصَارَى فَكَفَرُوا بِالْجَنَّةِ، وَقَالُوا: لَا طَعَامَ فِيهَا وَلَا شَرَابَ، وَالْحَرُورِيَّةُ الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ، وَكَانَ سَعْدٌ يُسَمِّيهِمُ الْفَاسِقِينَ "

Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Basysyaar : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja’far : Telah menceritakan kepada kami Syu’bah, dari ‘Amru bin Murrah, dari Mush’ab bin Sa’d, ia berkata : Aku pernah bertanya kepada ayahku (Sa’d bin Abi Waqqaash) tentang ayat : ‘Katakanlah: "Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ (QS. Al-Kahfi : 103), apakah mereka itu Haruuriyyah ?. Ia (ayahku) menjawab : “Tidak. Mereka adalah Yahudi dan Nashaaraa. Adapun Yahuudi, mereka mendustakan Muhammad shallallaahu ‘alaihi wa sallam, dan Nashaaraa mengingkari surga. Mereka berkata : ‘Tidak ada makanan dan minuman padanya (surga)’. Tentang Haruuriyyah, maka itu ada pada ayat : ‘(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh’ (QS. Al-Baqarah : 27)”. Sa’d menamai mereka sebagai orang-orang fasiq [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 4728].

b.     Al-Maariqah.

Penamaan dan pensiafatan ini bagi mereka terdapat dalam hadits :

يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ

“Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya”.

Al-Qurthubiy rahimahullah berkata :

وبهذا الفظ سُمُّوا : المارقة

“Dan dengan lafadh ini, mereka dinamakan Al-Maariqah” [lihat : Al-Mufhim 3/109, Al-Istidzkaar 8/82, dan Syarh Shahiih Muslim lil-Qaadliy ‘Iyaadl 3/608].

وَأَخْبَرَنِي يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، أَنَّ أَبَا عَبْدِ اللَّهِ، قِيلَ لَهُ: " أَكَفَرَ الْخَوَارِجُ؟ قَالَ: هُمْ مَارِقَةٌ، قِيلَ: أَكُفَّارٌ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ مَارِقَةٌ مَرَقُوا مِنَ الدِّينِ "

Telah mengkhabarkan kepadaku Yuusuf bin Muusaa, bahwasannya Abu ‘Abdillah (Ahmad bin Hanbal) pernah ditanya : “Apakah Khawaarij itu kafir ?”. Ia menjawab : Mereka adalah Al-Maariqah”. Dikatakan kepadanya : “Apakah mereka itu kafir ?”. Ia menjawab : “Mereka adalah maariqah, keluar dari agama” [Diriwayatkan oleh Al-Khallaal dalam As-Sunnah, 1/145 no. 111; hasan].

c.      Al-Mukaffirah.

Dinamakan dengan ini karena mereka mengkafirkan seseorang dengan sebab kemaksiatan dan dosa besar (kabaair), serta mengkafirkan orang yang menyelisihi mereka dari kaum muslimin dan menghukuminya dengan kekekalan di neraka [Al-Farqu bainal-Firaq hal. 73, Al-Milal wan-Nihal 1/114, dan Majmuu’ Al-Fataawaa 19/75].

Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :

وهم قوم استحلوا بما تأولوا من كتاب الله عز وجل دماء المسلمين، وكفروهم بالذنوب، وحملوا عليهم السيف

“Mereka adalah satu kaum yang menghalalkan darah kaum muslimin dengan pena’wilan mereka terhadap Kitabullah ‘azza wa jalla, dan mengkafirkan mereka (kaum muslimin) dengan sebab dosa dan mengangkat pedang terhadap mereka.....” [Al-Istidzkaar, 8/85].

Dalam hadits diatas terdapat dalil orang-orang Khawaarij akan muncul di akhir jaman.

Yang dimaksud dengan akhir jaman di sini adalah jaman shahabat, karena diketahui munculnya kelompok Khawaarij ini pada jaman shahabat. Atau mungkin juga yang dimaksudkan adalah akhir jaman khilafah Nubuwwah dan khilafah Raasyidah – karena munculnya kelompok Khawaarij ini pada jaman kekhilafan ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu.Wallaahu a’lam [Fathul-Baariy, 12/287].

Adapun cikal bakal Khawaarij sendiri telah muncul di jaman Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, saat seorang yang bernama Dzul-Khuwaisirah mendakwa Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah berlaku dhalim dalam pembagian harta rampasan perang.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنَا هِشَامٌ، أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: بَيْنَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْسِمُ، جَاءَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ ذِي الْخُوَيْصِرَةِ التَّمِيمِيُّ، فَقَالَ: " اعْدِلْ يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَقَالَ: وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ، قَالَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ: دَعْنِي أَضْرِبْ عُنُقَهُ، قَالَ: دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِ، وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ......

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Muhammad : Telah menceritakan kepada kami Hisyaam : Telah mengkhabarkan kepada kami Ma’mar, dari Az-Zuhriy, dari Abu Salamah, dari Abu Sa’iid, ia berkata : Ketika Nabi shallallaahu 'alaihi wa sallam sedang membagi (harta rampasan), tiba-tiba ‘Abdullah bin Dzil-Khuwaishirah At-Tamiimiy datang, lalu berkata : “Berbuat adillah wahai Muhammad !”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Celaka engkau. Siapakah yang akan berbuat adil jika aku tak berbuat adil ?". Mendengar itu ‘Umar bin Al-Khaththaab berkata : “Ijinkanlah aku untuk memenggal lehernya !”. Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : "Biarkan saja ia, sebab ia mempunyai beberapa teman yang salah seorang diantara kalian akan menganggap remeh shalatnya dibanding dengan shalat orang itu, menganggap remeh puasanya dengan puasa orang itu. (Akan tetapi) mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya....” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 6933].

Kemudian muncul di jaman ‘Aliy bin Abi Thaalib radliyallaahu ‘anhu dengan kekuatan dan pendukung untuk melawannya (‘Aliy).

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَعْقُوبَ بْنِ أَحْمَدَ الْفَقِيهُ، بِالطَّابِرَانِ، نَا أَبُو عَلِيٍّ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ الصَّوَّافِ، نَا أَبُو يَعْقُوبَ إِسْحَاقُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ مَيْمُونٍ الْحَرْبِيُّ، نَا أَبُو غَسَّانَ، نَا زِيَادٌ الْبَكَّائِيُّ، نَا مُطَرِّفُ بْنُ طَرِيفٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ الْجَهْمِ أَبِي الْجَهْمِ مَوْلَى الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، عَنِ الْبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ، قَالَ: " بَعَثَنِي عَلِيُّ إِلَى النَّهَرِ إِلَى الْخَوَارِجِ، فَدَعَوْتُهُمْ ثَلاثًا قَبْلَ أَنْ نُقَاتِلَهُمُ "

Telah mengkhabarkan kepada kami Abul-Hasan bin Muhammad bin Ya’quub bin Ahmad Al-Faqiih di negeri Thaabiraan : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu ‘Aliy Muhammad bin Ahmad bin Al-Hasan bin Ash-Shawwaaf : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ya’quub Ishaaq bin Al-Hasan bin Maimuun Al-Harbiy : Telah mengkhabarkan kepada kami Abu Ghassaan : Telah mengkhabarkan kepada kami Ziyaad Al-Bakkaa’iy : Telah mengkhabarkan kepada kami Mutharrif bin Thariif, dari Sulaimaan bin Al-Jahm Abul-Jahm maulaa Al-Barraa’ bin ‘Aazib, dari Al-Barraa’ bin ‘Aazib, ia berkata : “’Aliy pernah mengutusku ke Nahrawan menemui orang-orang Khawaarij. Lalu aku menyeru mereka untuk bertaubat sebanyak tiga kali sebelum kami memerangi mereka” [Diriwayatkan oleh Al-Baihaqiy dalam Ash-Shughraano. 3393].

Sanad riwayat ini hasan. Semua perawinya tsiqaat kecuali Ziyaad Al-Bakaa’iy, seorang yang shaduuq.

Orang-orang Khawaarij didominasi orang-orang berusia muda yang tidak kokoh ilmunya.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

والأسنان جمع سن والمراد به العمر، والمراد أنهم شباب. قوله: "سفهاء الأحلام" جمع حلم بكسر أوله والمراد به العقل، والمعنى أن عقولهم رديئة. وقال النووي: يستفاد منه أن التثبت وقوة البصيرة تكون عند كمال السن وكثرة التجارب وقوة العقل.

“Dan kata al-asnaan (الْأَسْنَانُ) adalah jamak dari katasinn (سِنٌّ) yang berarti usia. Maksudnya, mereka (Khawaarij) itu dalah para pemuda. Dan sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘sufahaa’ul-ahlaam’;ahlaam (أَحْلَامٌ) adalah jamak dari hilm (حِلْمٌ) yang berarti akal. Maknanya adalah : akal mereka rusak. An-Nawawiy berkata : ‘Diambil faedah darinya bahwasannya tatsabbut dan kekuatan bashiirah (pandangan) ada pada kesempurnaan usia, banyaknya pengalaman, dan kuatnya akal” [Fathul-Baariy, 12/287].

حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَمْزَةُ بْنُ الْعَبَّاسِ الْعَقَبِيُّ بِبَغْدَادَ، ثنا عَبْدُ الْكَرِيمِ بْنُ هُشَيْمٍ، ثنا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ الْمَحْبُوبِيُّ بِمَرْوَ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ سَيَّارٍ، ثنا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ، قَالا: ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ، أَنْبَأَ خَالِدُ بْنُ مِهْرَانَ الْحَذَّاءُ، عَنْ عِكْرِمَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الْبَرَكَةُ مَعَ أَكَابِرِكُمْ "

Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Hamzah bin Al-‘Abbaas Al-‘Aqabiy di Baghdaad : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Kariim bin Husyaim : Telah menceritakan kepada kami Nu’aim bin Hammaad. Dan telah mengkhabarkan kepada kami Abul-‘Abbaas Muhammad bin Ahmad Al-Mahbuubiy di Marwi : Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Sayyaar : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul-Waarits bin ‘Ubaidillah; mereka berdua berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Al-Mubaarak : Telah memberitakan Khaalid bin Mihraan Al-Hadzdzaa’, dari ‘Ikrimah, dari Ibnu ‘Abbaas, ia berkata : Telah bersabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam : “Barakah itu bersama dengan orang-orang tua (akaabir) di kalangan kalian” [Diriwayatkan oleh Al-Haakim dalam Al-Mustadrak, 1/62; dan ia berkata : “Shahih sesuai persyaratan Al-Bukhaariy, namun ia tidak meriwayatkannya”].

Orang-orang Khawaarij adalah orang yang gemar membaca Al-Qur’an.

Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وكان يقال لهم القراء لشدة اجتهادهم في التلاوة والعبادة، إلا أنهم كانوا يتأولون القرآن على غير المراد منه ويستبدون برأيهم ويتنطعون في الزهد والخشوع وغير ذلك

“Dan mereka (Khawaarij) disebut qurraa’ dikarenakan besarnya kesungguhan mereka dan membaca Al-Qur’an dan ibadah. Namun, mereka menta’wilkan Al-Qur’an pada sesuatu yang bukan maksudnya, mengutamakan pendapat mereka, berlebih-lebihan dalam zuhd dan khusyu’, dan yang lainnya” [Fathul-Baariy, 12/283].

Ibnu ‘Abdil-Barr rahimahullah berkata :

وفي هذا الحديث نص على أنَّ القرآن قد يقرؤه مَنْ لا دين له، ولا خير فيه، ولا يجاوز لسانه

“Dan dalam hadits ini merupakan nash bahwa Al-Qur’an kadang dibaca oleh orang yang tidak mempunyai agama, kebaikan, dan tidak melampaui lisannya (tidak memahami)” [Al-Istidzkaar, 8/90].

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ مِنْ كِتَابِهِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ شُرَيْحٍ، سَمِعْتُ شُرَحْبِيلَ بْنَ يَزِيدَ الْمَعَافِرِيَّ، أَنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ هدَيَّةَ الصَّدَفِيَّ، قَال: سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ العاص، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " إِنَّ أَكْثَرَ مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا "

Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al-Hubaab dari kitabnya : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdurrahmaan bin Syuraih : Aku mendengar Syurahbiil bin Yaziid Al-Mu’aafiriy, bahwasannya ia mendengar Muhammad bin Hadiyyah Ash-Shadafiy berkata : Aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Aash berkata : Aku mendengar Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya mayoritas orang munafiq di kalangan umatku adalah para qari’-nya” [Diriwayatkan oleh Ahmad 2/175 no. 6633].

Sanad riwayat ini hasan, dan shahih dengan keseluruhan jalannya. Dishahihkan oleh Al-Arna’uth dkk. dalam Takhriij Musnad Al-Imaam Ahmad, 11/209-210, Muassasah Ar-Risaalah, Cet. 1/1417].

Dalam riwayat lain, selain gemar membaca Al-Qur’an, Khawaarij juga merupakan kaum yang gemar beribadah kepada Allah ta’ala.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ الْحَارِثِ التَّيْمِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، أَنَّهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " يَخْرُجُ فِيكُمْ قَوْمٌ تَحْقِرُونَ صَلَاتَكُمْ مَعَ صَلَاتِهِمْ، وَصِيَامَكُمْ مَعَ صِيَامِهِمْ، وَعَمَلَكُمْ مَعَ عَمَلِهِمْ، وَيَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ........

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin Yuusuf : Telah mengkhabarkan kepada kami Maalik, dari Yahyaa bin Sa’iid, dari Muhammad bin Ibraahiim bin Al-Haarits At-Taimiy, dari Abu Salamah bin ‘Abdirrahmaan, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy radliyallaahu ‘anhu, bahwasannya ia pernah mendengar Rasulullahshallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan keluar pada kalian satu kaum yang kalian akan anggap remeh shalat kalian dibandingkan shalat mereka, puasa kalian dibandingkan puasa mereka, dan amal kalian dibandingkan amal mereka. Dan mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya.....” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 5058].

عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو زُمَيْلٍ الْحَنَفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: ......فَدَخَلْتُ عَلَى قَوْمٍ لَمْ أَرَ قَوْمًا قَطُّ أَشَدَّ اجْتِهَادًا مِنْهُمْ، أَيْدِيهِمْ كَأَنَّهَا ثَفِنُ الإِبِلِ، وَوُجُوهُهُمْ مُعَلَّمَةٌ مِنْ آثَارِ السُّجُودِ.....

Dari ‘Ikrimah bin ‘Ammaar, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu Zumail Al-Hanafiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abbaas radliyallaahu ‘anhu, ia berkata : “....Lalu aku pun menemui satu kaum yang aku tidak pernah melihat satu kaum yang lebih hebat kesungguhan (ibadahnya) dibandingkan mereka. Tangan-tangan mereka seperti tapak kaki onta, dan wajah-wajah mereka terdapat tanda hitam bekas sujud....” [Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaaq 10/157-158 no. 18678; shahih].

Banyaknya ibadah yang mereka lakukan tidaklah bermanfaat, karena mereka berlebih-lebihan dalam menjalankannya. Dalam riwayat lain disebutkan :

حَدَّثَنَا يَزِيدُ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى أَبِي سَعِيدٍ، فَقَالَ هَلْ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ فِي الْحَرُورِيَّةِ شَيْئًا؟ قَالَ: " سَمِعْتُهُ يَذْكُرُ قَوْمًا يَتَعَمَّقُونَ فِي الدِّينِ، يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ عِنْدَ صَلَاتِهِمْ، وَصَوْمَهُ عِنْدَ صَوْمِهِمْ، يَمْرُقُونَ مِنَ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنَ الرَّمِيَّةِ......

Telah menceritakan kepada kami Yaziid : Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amru, dari Abu Salamah, ia berkata : Seorang laki-laki mendatangi Abu Sa’iid dan berkata : “Apakah engkau pernah mendengar Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan sesuatu tentang Haruuriyyah (Khawaarij) ?”. Ia berkata : “Aku pernah mendengar beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan satu kaum yang berlebih-lebihan dalam agama, yang salah seorang di antara kalian akan menganggap remeh shalatnya dibandingkan shalat mereka dan puasanya dibandingkan puasa mereka. Mereka keluar dari agama seperti keluarnya anak panah dari busurnya....” [Diriwayatkan oleh Ahmad, 3/33-34].

Sanad riwayat ini hasan, dan shahih dengan keseluruhan jalannya. Dishahihkan oleh Al-Arna’uth dkk. dalam Takhriij Musnad Al-Imaam Ahmad, 17/393.

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

وأنهم يشددون في الدين في غير موضع التشديد

“Dan mereka (Khawaarij) ketat/mempersulit diri dalam agama pada sesuatu yang tidak perlu untuk memperketat/mempersulit diri” [Syarh Shahiih Muslim, 7/172].

Sikap berlebih-lebihan dalam agama hanyalah akan menimbulkan kesulitan dan kebinasaan. Oleh karena itu, Islam melarang sikap berlebih-lebihan dalam agama.

Allah ta’ala berfirman :

قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ لا تَغْلُوا فِي دِينِكُمْ غَيْرَ الْحَقِّ وَلا تَتَّبِعُوا أَهْوَاءَ قَوْمٍ قَدْ ضَلُّوا مِنْ قَبْلُ وَأَضَلُّوا كَثِيرًا وَضَلُّوا عَنْ سَوَاءِ السَّبِيلِ

“Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus” [QS. Al-Maaidah : 77].

حَدَّثَنَا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ مُطَهَّرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ، عَنْ مَعْنِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْغِفَارِيِّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلَّا غَلَبَهُ....

Telah menceritakan kepada kami ‘Abdus-Salaam bin Muthahhir, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Umar bin ‘Aliy, dari Ma’n bin Muhammad Al-Ghifaariy, dari Sa’iid bin Abi Sa’iid Al-Maqburiy, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah ada yang mempersulitnya kecuali agama akan mengalahkannya.....” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 39].

أَخْبَرَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدَّوْرَقِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَوْفٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ حُصَيْنٍ، عَنْ أَبِي الْعَالِيَةِ، قَالَ: قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ: قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ غَدَاةَ الْعَقَبَةِ وَهُوَ عَلَى رَاحِلَتِهِ: " هَاتِ الْقُطْ لِي، فَلَقَطْتُ لَهُ حَصَيَاتٍ هُنَّ حَصَى الْخَذْفِ فَلَمَّا وَضَعْتُهُنَّ فِي يَدِهِ، قَالَ: بِأَمْثَالِ هَؤُلَاءِ وَإِيَّاكُمْ وَالْغُلُوَّ فِي الدِّينِ، فَإِنَّمَا أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمُ الْغُلُوُّ فِي الدِّينِ "

Telah mengkhabarkan kepada kami Ya’quub bin Ibraahiim Ad-Dauraqiy, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Ulayyah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami ‘Auf, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami Ziyaad bin Hushain, dari Abul-‘Aaliyyah, ia berkata : Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda kepadaku pada waktu pagi di hari ‘Aqabah, dan waktu itu beliau berada di atas kendaraannya : “Ambilkanlah kerikil untukku”. Lalu aku pun memungut beberapa kerikil untuk beliau gunakan melempar jumrah. Ketika aku taruh kerikil tersebut dalam genggaman tangannya, beliau bersabda : “Seperti mereka. Berhati-hatilah engkau dari sikap berlebih-lebihan dalam agama. Sesungguhnya kebinasaan orang-orang sebelum kalian hanyalah disebabkan berlebih-lebihan dalam agama” [Diriwayatkan oleh An-Nasaa’iy no. 3057].

Orang-orang Khawaarij sedikit pengetahuannya tentang fiqh, bagus dalam perkataan namun jelek dalam perbuatan.

Mereka berkata-kata dengan sebaik-baik perkataan – yaitu Kitabullah - , hanya saja mereka tidak memahaminya sehingga salah dalam menerapkannya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ، أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ، عَنْ خَيْثَمَةَ، عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ، قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " يَأْتِي فِي آخِرِ الزَّمَانِ قَوْمٌ حُدَثَاءُ الْأَسْنَانِ، سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ، يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ، ......

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Katsiir : Telah mengkhabarkan kepada kami Al-A’masy, dari Khaitsamah, dari Suwaid bin Ghafalah : Telah berkata ‘Aliy radliyallaahu ‘anhu : Aku pernah mendengar Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Akan datang pada akhir jaman satu kaum yang berusia muda dan lemah akalnya. Mereka mengatakan dengan sebaik-baik perkataan manusia.....” [Diriwayatkan oleh Al-Bukhaariy no. 3611].

Tentang makna perkataan : ‘sebaik-baik perkataan manusia’ (خَيْرُ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ), Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وَأَنَّ الْمُرَاد مِنْ قَوْل خَيْر الْبَرِيَّة وَهُوَ الْقُرْآن . قُلْت : وَيَحْتَمِل أَنْ يَكُون عَلَى ظَاهِره وَالْمُرَاد الْقَوْل الْحَسَن فِي الظَّاهِر وَبَاطِنه عَلَى خِلَاف ذَلِكَ كَقَوْلِهِمْ " لَا حُكْم إِلَّا لِلَّهِ "

“Dan bahwasannya yang dimaksudkan dengan ‘sebaik-baik perkataan manusia’, yaitu : Al-Qur’aan. Aku katakan : Dan kemungkinan maknanya adalah sebagaimana dhahirnya, yaitu maksudnya adalah perkataan yang baik secara dhahir, namun secara bathin menyelisihinya – seperti perkataan mereka (Khawaarij) : ‘tidak ada hukum kecuali milik Allah” [Fathul-Baariy, 12/287].

An-Nawawiy rahimahullah berkata :

مَعْنَاهُ : فِي ظَاهِر الْأَمْر كَقَوْلِهِمْ : لَا حُكْمَ إِلَّا لِلَّهِ ، وَنَظَائِره مِنْ دُعَائِهِمْ إِلَى كِتَاب اللَّه تَعَالَى . وَاَللَّه أَعْلَم

“Maknanya adalah baik secara dhahir, seperti perkataan mereka : ‘tidak ada hukum kecuali milik Allah’, dan yang semisalnya dari ajakan mereka untuk kembali kepada Kitabullah ta’ala. Wallaahu a’lam” [Syarh Shahiih Muslim, 17/175].

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَاصِمٍ الْأَنْطَاكِيُّ، حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ، وَمُبَشِّرٌ يَعْنِيَ ابْنَ إِسْمَاعِيلَ الْحَلَبِيَّ بِإِسْنَادِهِ، عَنْ أَبِي عَمْرٍو، قَالَ يَعْنِي الْوَلِيدَ: حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرٍو، قَالَ: حَدَّثَنِي قَتَادَةُ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، وَأَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: سَيَكُونُ فِي أُمَّتِي اخْتِلَافٌ وَفُرْقَةٌ، قَوْمٌ يُحْسِنُونَ الْقِيلَ وَيُسِيئُونَ الْفِعْلَ، يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، ......

Telah menceritakan kepada kami Nashr bin ‘Aashim Al-Anthaakiy : Telah menceritakan kepada kami Al-Waliid dan Mubasysyir bin Ismaa’iil Al-Halabiy dengan sanadnya dari Abu ‘Amru – Al-Waliid berkata : Telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amru - , ia berkata : Telah menceritakan kepadaku Qataadah, dari Abu Sa’iid Al-Khudriy dan Anas bin Maalik, dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda : “Akan ada di kalangan umatku perselisihan dan perpecahan. Yaitu satu kaum yang bagus dalam perkataannya, namun jelek dalam perbuatannya. Mereka membaca Al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka. .......” [Diriwayatkan oleh Abu Daawud no. 4765].

Ibnu Hajar rahimahullah berkata :

وقال النووي: المراد أنهم ليس لهم فيه حظ إلا مروره على لسانهم لا يصل إلى حلوقهم فضلا عن أن يصل إلى قلوبهم، لأن المطلوب تعقله وتدبره بوقوعه في القلب. قلت: وهو مثل قوله فيهم أيضا: "لا يجاوز إيمانهم حناجرهم" أي ينطقون بالشهادتين ولا يعرفونها بقلوبهم

“An-Nawawiy berkata : Maksud (sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam : ‘mereka membaca Al-Qur’an namun melewati tenggorokan mereka’) adalah : mereka tidak mempunyai bagian dari Al-Qur’an, kecuali sekedar melewati lisan mereka, tidak sampai melewati tenggorokan, apalagi sampai pada hati mereka. Padahal yang diminta (dari Al-Qur’an) adalah memikirkan dan mentadaburinya dengan meresapinya di dalam hati’. Aku (Ibnu Hajar) berkata : Hal itu seperti sabda beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam tentang mereka (Khawaarij) : ‘iman mereka tidak sampai melewati pangkal tenggorokan mereka’; yaitu : mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, namun mereka tidak mengetahuinya/memahaminya dengan hati mereka” [Fathul-Baariy, 12/293].

Kongkrit penerapan ayat dalam Kitabullah ala Khawaarij adalah seperti yang dikatakan Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhumaa dalam riwayat :

ثنا يونس، ثنا ابن وهب، أخبرني عمرو بن الحارث، أن بكيرا حدثه، أنه سأل نافعا كيف كان رأي ابن عمر في الحرورية ؟ قال: " يراهم شرار خلق الله، انطلقوا إلى آيات في الكفار، فجعلوها في المؤمنين

Telah menceritakan kepada kami Yuunus : Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb : Telah mengkhabarkan kepada kami ‘Amru bin Al-Haarits, bahwasannya Bukair menceritakan kepadanya, bahwa ia pernah bertanya kepada Naafi’ bagaimana pendapat Ibnu ‘Umar tentang Haruuriyyah. Ia menjawab : “Ia memandangnya sebagai makhluk Allah yang paling buruk. Mereka membawa ayat-ayat yang berkenaan dengan orang-orang kafir dan mengenakannya pada orang-orang beriman” [Diriwayatkan oleh Ath-Thahawiy dalam Tahdziibul-Aatsaar – sebagaimana dinukil Ibnu Hajar dalamTaghliiqut-Ta’liiq 5/259; shahih].

Al-Aajurriy rahimahullah berkata :

ومما يتبع الحرورية من المتشابه قول الله عز وجل : وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ . ويقرؤون معها : ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ فإذا رأوا الإمام يحكم بغير الحق قالوا : قد كفر . ومن كفر عدل بربه ، فقد أشرك ، فهؤلاء الأئمة مشركون ، فيخرجون فيفعلون ما رأيت ، لأنهم يتأولون هذه الآية .

“Dan termasuk di antara syubhat yang diikuti kaum Haruuriyyah (Khawaarij) dalam firman Allah ta’ala : ‘Dan barangsiapa yang tidak berhukum dengan apa-apa yang diturunkan Allah, maka mereka termasuk orang-orang kafir’ (QS. Al-Maaidah : 44). Mereka membacanya bersama ayat : ‘Namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka’ (QS. Al-An’aam : 1). Apabila mereka melihat seorang imam (penguasa) yang berhukum bukan dengan kebenaran, mereka pun berkata : ‘Sungguh ia telah kafir. Dan barangsiapa yang kafir, maka ia telah mempersekutukan Rabb-nya, dan sungguh ia telah berbuat syirik. Mereka adalah para pemimpin kaum musyrik’. Akhirnya, mereka (Khawaarij) keluar (dari ketaatan) dan melakukan apa-apa yang telah kamu lihat. Hal itu dikarenakan mereka mena’wilkan (secara keliru) ayat ini” [Asy-Syarii’ah, 1/144].

حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ أَبِي سَهْلٍ، حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ أَبِي غَالِبٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، يَقُولُ: " شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ، وَخَيْرُ قَتْلَى مَنْ قَتَلُوا كِلَابُ أَهْلِ النَّارِ، قَدْ كَانَ هَؤُلَاءِ مُسْلِمِينَ فَصَارُوا كُفَّارًا "، قُلْتُ يَا أَبَا أُمَامَةَ: هَذَا شَيْءٌ تَقُولُهُ، قَالَ: بَلْ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Telah menceritakan kepada kami Sahl bin Sahl : Telah menceritakan kepada kami Sufyaan bin ‘Uyainah, dari Abu Ghaalib, dari Abu Umaamah, ia berkata : “Sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah kolong langit dan sebaik-baik orang yang terbunuh adalah orang yang mereka bunuh; mereka itu adalah anjing-anjing penghuni neraka. Sungguh, mereka itu dulunya muslim, namun berubah menjadi kafir”. Aku (Abu Ghaalib) berkata : “Wahai Abu Umaamah, apakah ini sekedar perkataanmu saja ?”. Ia menjawab : “Bahkan, itu adalah yang aku dengar dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam” [Diriwayatkan oleh Ibnu Maajah no. 176].

Abu Ghaalib mempunyai mutaba’ah dari Shafwaan bin Sulaim dan Syaddaad bin ‘Abdillah rahimahumullah.

Oleh karena itu, jangan kita tertipu dan silau oleh slogan-slogan ketaqwaan dan kembali kepada syari’at yang dikumandangkan oleh orang-orang Khawaarij.